Langsung ke konten utama
Drama Kantor

Sedang sakit tapi masih ditanya bisa kerja dari rumah: harus bagaimana?

15 min
Karyawan sedang sakit beristirahat di tempat tidur dengan laptop dan ponsel di sampingnya
Sedang sakit tetapi tetap ditanya apakah masih bisa bekerja dari rumah bisa membuat waktu istirahat terasa serba salah.

Anda sudah bilang ke kantor kalau hari itu sedang sakit.

Dalam pikiran mungkin akhirnya bisa sedikit tenang, rebahan, tidur, minum obat, dan berharap besok badan sudah kembali enakan.

Tapi baru juga kepala nempel di bantal, tiba-tiba HP bunyi.

“Kalau dari rumah masih bisa kerja gak?”

Nah, mulai dari sini biasanya jadi serba salah.

Mau bilang gak bisa rasanya gak enak. Mau bilang bisa, badan sendiri sebenarnya lagi minta istirahat.

Memang sih, secara teknis laptop ada di rumah. Internet juga nyala. Tangan masih bisa buka chat, balas email, bahkan mungkin masih kuat mengetik beberapa kalimat.

Tapi apakah cuma karena semua itu masih bisa dilakukan berarti kita sebenarnya masih sanggup bekerja?

Menurut saya belum tentu.

Karena yang namanya sakit itu bukan cuma soal masih bisa duduk di depan laptop atau gak. Kadang badan memang masih bisa dipaksa, tapi kepala sudah susah fokus, mata berat, badan pegal semua, dan pikiran cuma pengen tidur.

Masalahnya, banyak dari kita justru merasa gak enak kalau harus bilang, “Saya gak bisa kerja hari ini.”

Seolah-olah kalau masih bisa pegang HP berarti sakitnya belum cukup parah untuk benar-benar istirahat.

Akhirnya izin sakit yang tadinya niatnya buat memulihkan badan malah berubah jadi kerja dari kasur.

Meeting tetap ikut.

Chat tetap dibalas.

Kerjaan tetap dibuka.

Bedanya cuma satu, biasanya sambil selimutan.

Hal seperti inilah yang kadang membuat batas antara sedang sakit dan sedang bekerja menjadi semakin gak jelas. Apalagi kalau dari awal kita sudah merasa bersalah hanya karena mengambil waktu untuk istirahat.

Padahal kalau memang sedang sakit, mungkin pertanyaan yang seharusnya kita pikirkan bukan “masih bisa kerja atau gak?”, tapi “badan saya sebenarnya sedang butuh apa sekarang?”

Sakit dan Work From Home Itu Dua Hal yang Berbeda

Karyawan yang sedang sakit melihat ponsel dengan laptop terbuka di samping tempat tidurIzin sakit berbeda dengan WFH karena kondisi tubuh mungkin memang membutuhkan waktu untuk benar-benar beristirahat.

Kadang kita suka mencampuradukkan antara kerja dari rumah dengan izin sakit.

Padahal sebenarnya dua hal ini berbeda.

Work From Home atau WFH itu sederhananya cuma memindahkan tempat kerja. Yang biasanya duduk di kantor, sekarang duduk di rumah. Kerjaan masih tetap ada, jam kerja masih berjalan, meeting masih ikut, dan tanggung jawab juga masih sama.

Sedangkan kalau izin sakit ya ceritanya beda lagi.

Kita berada di rumah bukan karena sedang memilih tempat kerja yang lebih nyaman, tapi karena kondisi badan memang sedang gak memungkinkan untuk bekerja seperti biasanya.

Jadi jangan mentang-mentang sama-sama berada di rumah lalu dianggap sama.

Kalau logikanya selama laptop bisa dibuka berarti masih bisa kerja, orang demam sambil rebahan pun akhirnya tetap dianggap available.

Laptop memang mungkin ada di sebelah kasur.

Internet juga mungkin lancar.

Tapi badan belum tentu mau diajak kompromi.

Apalagi bekerja itu bukan cuma soal jari masih kuat mengetik atau mata masih bisa melihat layar. Kita juga butuh konsentrasi, tenaga, pikiran yang cukup jernih, dan kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan benar.

Kalau kepala lagi pusing, badan menggigil, ngantuk karena obat, atau sekadar melihat layar saja sudah bikin tambah gak enak badan, rasanya cukup aneh kalau kita masih mengukur kemampuan kerja cuma dari pertanyaan, “Laptopnya bisa dibuka gak?”

Yang lebih penting justru melihat kondisi tubuh kita sendiri.

Apakah memang masih cukup fit untuk bekerja secara wajar?

Kalau iya, mungkin WFH masih bisa dipertimbangkan.

Tapi kalau untuk fokus saja sudah susah, jangan sampai istilah “kerja dari rumah” akhirnya cuma menjadi cara lain untuk tetap memaksakan diri bekerja ketika badan sebenarnya sedang meminta istirahat.

Kenapa Pertanyaan “Masih Bisa Kerja dari Rumah?” Bikin Serba Salah?

Sebenernya pertanyaan “masih bisa kerja dari rumah?” terdengar sederhana.

Tinggal jawab bisa atau gak bisa, selesai.

Tapi kenyataannya gak sesederhana itu.

Kadang baru membaca pertanyaannya saja kita sudah mulai mikir macam-macam.

Kalau jawab gak bisa, nanti dikira gak mau bantu.

Kalau gak ikut mengerjakan, takut pekerjaan malah dilempar ke teman yang juga sudah punya banyak urusan.

Belum lagi ada pikiran, “Jangan-jangan mereka menganggap saya sebenarnya gak sakit-sakit banget.”

Akhirnya sebelum melihat kondisi badan sendiri, kita malah lebih dulu memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain.

Apalagi kerja dari rumah kelihatannya memang lebih ringan.

Gak perlu mandi pagi-pagi, gak perlu perjalanan ke kantor, gak perlu duduk berjam-jam di kendaraan. Tinggal buka laptop dari rumah.

Kelihatannya gampang.

Makanya kadang muncul perasaan kalau menolak WFH saat sakit itu seperti terlalu berlebihan.

Ditambah lagi kalau yang bertanya adalah atasan.

Entah kenapa tombol “gak bisa” jadi terasa semakin susah ditekan.

Ada rasa takut mengecewakan, takut terlihat gak kooperatif, atau sekadar gak enak karena pekerjaan hari itu mungkin memang sedang banyak.

Padahal kadang masalah sebenarnya bukan pada pertanyaannya.

Masalahnya adalah kita langsung merasa harus menjawab “bisa”, padahal kepala saja sudah pusing melihat layar.

Akhirnya mulut bilang bisa, tangan buka laptop, tapi lima menit kemudian malah bengong melihat pekerjaan karena otak rasanya gak mau diajak kerja sama.

Jadi wajar kalau pertanyaan sederhana seperti itu bisa membuat kita serba salah.

Bukan karena kita gak tahu laptopnya ada di mana, tapi karena ada banyak perasaan lain yang ikut muncul bersamaan ketika harus memilih antara membantu pekerjaan atau benar-benar memberi waktu untuk badan beristirahat.

Sebelum Menjawab, Coba Tanya Kondisi Diri Sendiri Dulu

Karyawan sakit berbaring dengan selimut sambil menghadapi laptop untuk meeting onlineSebelum menjawab apakah masih bisa WFH, pertimbangkan apakah kondisi tubuh masih memungkinkan untuk fokus dan bekerja dengan baik.

Sebelum buru-buru jawab “bisa” atau “gak bisa”, mungkin ada baiknya kita lihat kondisi diri sendiri dulu.

Bukan lihat laptopnya.

Bukan lihat ada Wi-Fi atau gak.

Tapi benar-benar lihat badan kita saat itu.

Apakah Saya Benar-Benar Masih Bisa Fokus?

Ini yang kadang suka kelewat.

Kita merasa masih sanggup kerja hanya karena masih bisa bangun, duduk, lalu buka laptop.

Padahal bekerja itu bukan cuma perkara berhasil masuk ke desktop.

Coba tanya beberapa hal sederhana ke diri sendiri.

Masih bisa konsentrasi gak?

Kalau ada meeting satu jam, kira-kira masih bisa mengikuti pembicaraannya dengan baik atau malah setengahnya gak masuk ke kepala?

Kalau harus mengambil keputusan, masih bisa berpikir dengan cukup jernih atau justru gampang salah karena badan sedang gak enak?

Lalu lihat juga gejalanya.

Kalau cuma sedikit kurang enak badan dan memang masih cukup nyaman untuk beraktivitas, kondisinya tentu berbeda dengan saat kepala berat, demam, badan lemas, atau rasanya cuma pengen tidur.

Yang gak kalah penting, coba pikirkan juga apa yang akan terjadi setelah bekerja.

Apakah dua atau tiga jam di depan laptop masih terasa aman?

Atau justru setelah itu badan bakal semakin capek dan akhirnya waktu pemulihannya malah tambah panjang?

Karena kemampuan membuka laptop bukan berarti kemampuan bekerja dengan normal.

Saya rasa ini pembeda yang cukup penting.

Kadang kita terlalu fokus pada pertanyaan, “Masih bisa kerja gak?”

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Kalau saya kerja sekarang, apakah saya benar-benar bisa menjalankannya dengan baik?”

Kalau jawabannya ternyata gak, ya itu juga jawaban.

Gak perlu menunggu sampai benar-benar gak bisa bangun dari tempat tidur dulu baru menganggap diri sendiri pantas untuk istirahat.

Kalau Memang Gak Bisa Kerja, Bilang Gak Bisa

Kalau setelah dipikir-pikir kondisi badan memang gak memungkinkan untuk kerja, ya bilang saja gak bisa.

Gak perlu muter-muter terlalu jauh.

Kadang kita malah sibuk menyusun penjelasan panjang supaya orang lain percaya kalau kita memang benar-benar sakit.

Padahal jawabannya bisa sesederhana:

“Hari ini kondisi saya masih belum memungkinkan untuk bekerja. Saya mau fokus istirahat dulu supaya bisa pulih.”

Atau:

“Sepertinya hari ini saya belum bisa WFH karena kondisi badan masih kurang fit.”

Selesai.

Jelas, sopan, dan orang yang membaca juga langsung tahu kalau hari itu Anda memang sedang tidak bisa bekerja.

Menurut saya ini lebih baik daripada menjawab setengah-setengah seperti, “Saya coba dulu ya,” padahal sebenarnya sudah tahu badan gak sanggup.

Karena jawaban seperti itu kadang malah membuka pintu ke mana-mana.

Awalnya cuma diminta cek satu chat.

Lalu diminta lihat satu file.

Setelah itu ada meeting sebentar.

Tau-tau dari pagi sampai sore kita masih pegang laptop.

Jadi kalau memang ingin fokus istirahat, jawabannya juga perlu cukup jelas supaya tidak muncul anggapan kalau Anda masih akan tetap standby sepanjang hari.

Dan kita juga gak harus menceritakan semua detail kondisi badan hanya untuk membuktikan kalau sakitnya layak dianggap sakit.

Gak perlu sampai menjelaskan semalam tidur jam berapa, sudah minum obat apa, kepala pusing sebelah mana, atau sudah berapa kali bolak-balik kamar mandi.

Kalau memang ada informasi tertentu yang perlu disampaikan sesuai aturan kantor, tentu silakan disampaikan.

Tapi untuk sekadar mengatakan bahwa hari itu Anda belum bisa bekerja, jawaban sederhana sebenarnya sudah cukup.

Kadang yang bikin susah justru bukan bagaimana cara bilangnya.

Kita sendiri yang merasa harus punya alasan sepanjang satu halaman hanya untuk mengatakan dua kata sederhana:

“Saya gak bisa.”

Kalau Masih Bisa Membantu Sedikit, Tentukan Batasnya

Karyawan yang kurang sehat bekerja di depan laptop dengan obat dan tisu di mejaJika masih sanggup membantu pekerjaan saat sakit, tentukan batas yang jelas agar bantuan kecil tidak berubah menjadi kerja seharian.

Tapi memang gak semua kondisi sakit harus berakhir dengan benar-benar gak bisa ngapa-ngapain.

Kadang sakitnya masih ringan.

Badan memang kurang enak, tapi untuk melakukan satu dua hal yang benar-benar mendesak mungkin masih sanggup.

Kalau kondisinya seperti ini, menurut saya gak masalah kalau memang ingin membantu sedikit.

Yang penting, batasnya harus jelas.

Misalnya kantor cuma butuh satu file yang kebetulan ada di laptop Anda.

Anda bisa bilang:

“Saya bisa bantu kirim file yang dibutuhkan, tapi setelah itu saya perlu kembali istirahat.”

Sederhana.

Dengan jawaban seperti itu, orang lain tahu apa yang masih bisa Anda bantu dan sampai mana batasnya.

Jangan sampai niat awalnya cuma mau kirim satu file, tapi karena dari awal gak kasih batas akhirnya lanjut balas chat, buka revisi, ikut meeting, kemudian tahu-tahu sudah makan siang dan laptop masih nyala.

Nah, itu namanya bukan membantu sedikit lagi.

Itu sudah WFH versi sambil sakit.

Kalau memang cuma sanggup mengerjakan hal tertentu, bilang saja bagian itu yang bisa dibantu.

Kalau gak sanggup ikut meeting, bilang gak bisa ikut meeting.

Kalau setelah mengirim sesuatu Anda mau tidur lagi, sampaikan juga kalau setelah itu tidak akan standby.

Batas seperti ini penting supaya orang lain gak salah menangkap bahwa karena Anda sempat membalas satu pesan berarti Anda sudah kembali siap bekerja seperti biasa.

Karena membantu sebentar dan bekerja seharian adalah dua hal yang beda jauh.

Jadi kalau memang kondisi masih memungkinkan untuk sedikit membantu, silakan saja.

Tapi jangan sampai satu bantuan kecil malah berubah menjadi delapan jam kerja dari tempat tidur.

Jangan Merasa Harus Membuktikan Kalau Anda Benar-Benar Sakit

Ada satu kebiasaan yang menurut saya cukup sering terjadi ketika kita sedang sakit.

Begitu ditanya masih bisa kerja atau gak, kita malah langsung merasa harus memberikan bukti sebanyak-banyaknya.

“Demam saya segini.”

“Saya sudah minum obat.”

“Tadi malam hampir gak tidur.”

“Dari pagi badan masih lemas.”

Seolah-olah kalau penjelasannya kurang panjang, nanti sakitnya dianggap kurang meyakinkan.

Padahal gak semua percakapan harus sampai seperti itu.

Memang ada kondisi tertentu di mana perusahaan membutuhkan informasi atau dokumen sesuai aturan yang berlaku. Kalau memang diperlukan, ya tentu saja diberikan.

Tapi di luar itu, Anda gak harus menjelaskan seluruh perjalanan penyakit hanya supaya orang lain percaya kalau Anda memang butuh istirahat.

Kadang kita sendiri yang tanpa sadar mengubah percakapan sederhana menjadi semacam sidang pembuktian.

Harus menjelaskan gejalanya.

Harus menjelaskan sudah minum obat apa.

Harus menjelaskan kenapa gak bisa buka laptop.

Harus menjelaskan kenapa gak bisa ikut meeting.

Padahal inti informasinya sebenarnya sederhana: kondisi Anda hari itu memang belum memungkinkan untuk bekerja.

Dan menurut saya, itu sudah cukup.

Karena tujuan memberi kabar sakit seharusnya untuk memberi tahu kondisi dan mengatur pekerjaan yang terdampak, bukan untuk meyakinkan semua orang bahwa sakit kita sudah mencapai level tertentu baru boleh istirahat.

Jadi kalau memang ada informasi yang perlu disampaikan, sampaikan seperlunya.

Tapi gak perlu merasa harus membuat pembelaan panjang hanya supaya waktu istirahat Anda terasa sah.

Bagaimana Kalau Pekerjaannya Memang Mendesak?

Karyawan sakit menyelesaikan pekerjaan singkat di laptop sebelum kembali beristirahatPekerjaan mendesak bisa diserahkan melalui handover agar pekerjaan tetap berjalan tanpa harus terus bekerja dalam kondisi sakit.

Nah, ini yang kadang bikin keadaan jadi sedikit rumit.

Gimana kalau memang ada pekerjaan yang lagi penting-pentingnya?

Misalnya ada deadline hari itu, ada file yang cuma Anda pegang, atau ada pekerjaan yang posisinya sudah setengah jalan dan orang lain belum tahu lanjutannya.

Kalau kondisinya seperti ini, bukan berarti Anda harus langsung ambil laptop lalu kerja seperti biasa sampai sore.

Yang bisa dilakukan adalah handover.

Kalau badan masih memungkinkan, Anda cukup kasih tahu posisi terakhir pekerjaannya.

Misalnya bagian mana yang sudah selesai, bagian mana yang belum, file-nya ada di mana, akses apa yang dibutuhkan, dan siapa yang kira-kira bisa melanjutkan.

Kalau ada dokumen penting, tinggal kirim.

Kalau ada informasi yang belum diketahui teman satu tim, tinggal jelaskan seperlunya.

Setelah itu pekerjaan bisa diteruskan orang lain.

Ini beda dengan tetap mengambil alih semuanya sendiri hanya karena merasa pekerjaannya mendesak.

Karena kalau setiap ada pekerjaan penting akhirnya orang yang sakit tetap harus mengerjakan dari awal sampai selesai, ya ujung-ujungnya izin sakit cuma ada namanya saja.

Badannya istirahat di rumah, tapi pikirannya tetap kerja.

Menurut saya, handover justru bisa jadi jalan tengah yang cukup masuk akal.

Pekerjaan tetap bisa bergerak, sementara Anda gak harus terus-terusan online.

Dan kalau ternyata pekerjaan benar-benar gak bisa jalan tanpa satu orang yang sedang sakit tetap buka laptop, mungkin masalahnya bukan lagi soal orang tersebut sakit atau gak.

Mungkin memang ada proses kerja yang terlalu bergantung pada satu orang.

Jadi kalau masih sanggup memberi informasi penting sebelum offline, silakan lakukan.

Tapi setelah itu, ya biarkan pekerjaannya dilanjutkan oleh orang yang memang sedang dalam kondisi untuk bekerja.

Kalau Kejadian Seperti Ini Terus Berulang, Masalahnya Mungkin Lebih Besar

Karyawan yang sedang sakit mengikuti video call dari rumah dengan laptop di depannyaJika izin sakit terus berubah menjadi meeting, revisi, dan pekerjaan dari rumah, batas antara istirahat dan bekerja menjadi tidak jelas.

Kalau cuma sekali ditanya masih bisa kerja atau gak, mungkin memang cuma sekadar memastikan kondisi.

Itu masih cukup wajar.

Tapi kalau setiap kali izin sakit polanya selalu sama, nah ini yang mulai perlu diperhatikan.

Baru bilang sakit, langsung ditanya bisa online jam berapa.

Setelah itu diminta ikut meeting.

Lalu masuk revisi.

Kemudian ada chat, “Bisa bantu sebentar gak?”

Yang katanya sebentar tadi akhirnya sambung-menyambung sampai sore.

Kalau kejadian seperti ini terus berulang, batas antara izin sakit dan WFH lama-lama jadi gak jelas.

Secara status mungkin kita sedang izin sakit.

Tapi secara kenyataan tetap bekerja seperti biasa.

Bedanya cuma gak datang ke kantor.

Menurut saya, kalau sudah seperti ini masalahnya bukan lagi cuma soal satu chat atau satu pekerjaan yang mendesak.

Bisa jadi memang ada kebiasaan di tempat kerja yang menganggap orang sakit tetap bisa dihubungi selama masih berada di rumah.

Akhirnya izin sakit terasa bukan benar-benar waktu untuk pulih, tapi cuma semacam WFH dengan kondisi badan yang lebih buruk.

Dan kalau hal seperti ini terus terjadi, tentu perlu dilihat lebih jauh bagaimana kantor memperlakukan karyawan yang sedang sakit.

Karena beda cerita antara atasan sekadar menanyakan kondisi dengan atasan yang tetap memberikan pekerjaan seperti hari biasa.

Untuk pembahasan yang lebih khusus soal itu, Anda bisa lanjut membaca artikel “Atasan Tetap Memberi Kerjaan Meski Karyawan Sedang Sakit”.

Jadi, Harus Jawab Apa Kalau Ditanya Bisa Kerja dari Rumah?

Setelah panjang lebar dibahas, akhirnya balik lagi ke pertanyaan paling sederhana.

Kalau ditanya, “Masih bisa kerja dari rumah gak?”

Harus jawab apa?

Menurut saya jawabannya tergantung kondisi kita saat itu.

Kalau memang benar-benar gak sanggup, ya bilang saja kalau hari itu Anda gak bisa bekerja dan ingin fokus istirahat.

Gak perlu dibuat ribet.

Kalau masih sanggup membantu sesuatu yang kecil, bilang secara spesifik apa yang masih bisa dilakukan.

Misalnya cuma kirim file, kasih informasi singkat, atau menjelaskan posisi terakhir sebuah pekerjaan.

Setelah itu ya offline lagi.

Jangan sampai bilang “bisa bantu sedikit” tapi ujung-ujungnya malah duduk di depan laptop sampai sore.

Lalu kalau ternyata kondisi memang cukup fit dan Anda sendiri merasa masih sanggup bekerja, WFH tentu bisa dibicarakan.

Tapi usahakan keputusan itu benar-benar datang dari kondisi badan.

Bukan karena takut dianggap gak mau membantu.

Bukan karena gak enak sama teman.

Dan bukan juga karena merasa bersalah cuma gara-gara sedang istirahat sementara orang lain masih kerja.

Karena pada akhirnya cuma kita sendiri yang paling tahu badan sedang sanggup diajak kerja atau sebenarnya sudah minta berhenti.

Jadi menurut saya pegangan paling sederhananya cuma satu:

Jangan menjawab berdasarkan rasa bersalah. Jawab berdasarkan kondisi badan Anda.

Penutup

Sakit itu sebenarnya sudah gak enak.

Badan lemas, kepala berat, kadang mau makan saja malas.

Jadi kalau dalam kondisi seperti itu kita masih harus pusing mikirin apakah menolak kerja bakal dianggap malas atau gak, ya capeknya jadi dobel.

Menurut saya gak ada yang salah kalau memang kondisi masih memungkinkan dan kita mau membantu sedikit.

Tapi kalau badan memang sudah minta istirahat, ya istirahat.

Gak perlu merasa bersalah hanya karena hari itu kita gak bisa produktif seperti biasanya.

Karena tujuan izin sakit dari awal memang supaya kita punya kesempatan untuk pulih.

Bukan supaya meja kerja yang biasanya ada di kantor pindah sementara ke atas kasur.

Lagipula, memaksakan diri kerja ketika kondisi sedang gak fit juga belum tentu membuat pekerjaan selesai dengan lebih baik.

Kadang yang dibutuhkan badan memang cuma tidur, makan yang cukup, minum obat kalau diperlukan, lalu berhenti mikirin pekerjaan sebentar.

Besok kalau kondisi sudah lebih baik, kerjaan masih bisa dilanjutkan lagi.

Jadi kalau suatu hari Anda sedang sakit lalu ditanya masih bisa kerja dari rumah atau gak, coba lihat kondisi diri sendiri dulu sebelum menjawab.

Kalau memang bisa, silakan.

Kalau gak bisa, ya gak apa-apa.

Karena istirahat ketika sakit seharusnya gak perlu terasa seperti sebuah kesalahan.

Kalau Anda sering merasa bersalah setiap kali harus berhenti bekerja karena kondisi badan, Anda juga bisa membaca “Kerja Saat Sakit: Ketika Istirahat Malah Terasa Seperti Sebuah Kesalahan” untuk melihat masalah ini dari sudut yang lebih luas.

Tags

Kerja Saat Sakit Izin Sakit WFH WFH Saat Sakit Kesehatan Kerja Budaya Kerja Kehidupan Karyawan

Artikel Terkait