Langsung ke konten utama
Drama Kantor

Kerja Saat Sakit: Ketika Istirahat Malah Terasa Seperti Sebuah Kesalahan

40 min
Perempuan sedang sakit beristirahat di tempat tidur dengan laptop, obat, dan ponsel di dekatnya
Saat sedang sakit, tubuh mungkin sudah ingin berhenti, tetapi pikiran tentang pekerjaan belum tentu ikut beristirahat.

Kalau dipikir-pikir, sakit itu seharusnya menjadi alasan yang cukup buat kita berhenti kerja sementara. Namanya juga sakit, badan lagi gak beres, kepala mungkin pusing, tenggorokan gak enak, badan lemes, dan yang paling pengen dilakukan biasanya cuma rebahan sambil berharap besok bangun semuanya sudah kembali normal.

Tapi kenyataannya gak selalu sesimpel itu.

Ada orang yang badannya sudah minta istirahat, tapi pikirannya masih mondar-mandir ke kantor. Baru merem lima menit tiba-tiba inget deadline. Mau tidur kepikiran chat yang belum dibalas. Lagi makan obat malah buka grup kantor cuma buat ngecek ada keributan apa gak. Belum lagi pikiran-pikiran gak penting yang muncul sendiri seperti, “Kalau saya izin hari ini nanti dianggap malas gak ya?”

Akhirnya badan memang ada di kasur, tapi otaknya masih duduk manis di depan laptop.

Dan saya rasa masalah kerja saat sakit ini bukan cuma soal seseorang terlalu rajin atau terlalu cinta sama pekerjaannya. Kadang justru bukan karena pengen kerja sama sekali, tapi karena ada rasa gak enak, takut kerjaan numpuk, takut merepotkan teman kantor, takut atasan kecewa, sampai takut dianggap cuma mencari alasan buat gak masuk.

Belum lagi kalau lingkungan kerjanya memang terbiasa dengan budaya “selama masih bisa buka mata berarti masih bisa kerja.” Orang yang sedang sakit pun kadang masih ditanya bisa buka laptop atau gak, bisa ikut meeting sebentar atau gak, atau sekedar diminta bantu satu hal kecil yang ujung-ujungnya malah jadi banyak.

Tapi tekanan itu juga gak selalu datang dari orang lain. Kadang justru kita sendiri yang paling jago bikin diri sendiri merasa bersalah.

Mau istirahat rasanya gak tenang. Mau tidur kepikiran kerjaan. Mau matiin HP takut ada yang nyariin. Padahal tubuh sudah jelas-jelas kasih sinyal kalau sekarang waktunya berhenti dulu.

Nah, yang jadi pertanyaan adalah: kenapa sih istirahat ketika sedang sakit malah bisa terasa seperti kita sedang melakukan sebuah kesalahan?

Padahal kalau memang sakit, bukankah seharusnya istirahat itu hal yang paling normal?

Saat Badan Sakit, Tapi Pikiran Masih Ada di Kantor

Pria sedang sakit di tempat tidur mengecek ponsel dengan laptop dan obat di dekatnyaBadan sudah di tempat tidur, tetapi notifikasi dan pekerjaan membuat pikiran masih tertinggal di kantor.

Sakit Tidak Otomatis Membuat Seseorang Bisa Berhenti Memikirkan Pekerjaan

Salah satu hal yang agak menyebalkan ketika sakit adalah badan bisa berhenti kerja, tapi pikiran belum tentu ikut berhenti.

Secara fisik mungkin kita sudah rebahan, selimut sudah ditarik sampai leher, obat juga sudah diminum. Tapi beberapa menit kemudian tiba-tiba inget kalau ada deadline yang belum selesai. Habis itu kepikiran lagi ada file yang belum dikirim. Belum selesai mikirin itu, muncul lagi pikiran tentang kerjaan yang mungkin sedang ditanyakan orang kantor.

Akhirnya bukannya tidur malah buka HP.

Cek WhatsApp sebentar.

Lihat grup kantor.

Buka email.

Terus bilang ke diri sendiri, “Cuma ngecek doang kok.”

Padahal yang namanya cuma ngecek kadang bisa jadi awal dari kerja lagi. Ada chat masuk, kita balas. Ada yang nanya sesuatu, kita jawab. Ada file yang katanya cuma perlu dicek sebentar, akhirnya dibuka juga.

Tahu-tahu sudah satu jam masih pegang HP atau laptop.

Kadang bukan karena ada yang memaksa juga. Kita sendiri yang merasa harus tetap standby. Takut kalau gak balas nanti dikira menghilang, takut ada pekerjaan yang terbengkalai, atau merasa kalau ada masalah kita tetap harus ikut membantu meskipun kondisinya sedang gak enak badan.

Apalagi kalau pekerjaan kita memang punya banyak tanggung jawab yang saling berhubungan dengan orang lain. Rasanya susah sekali buat benar-benar bilang, “Hari ini saya sakit, jadi urusan kerja saya tinggal dulu.”

Karena meskipun mulut sudah bilang izin, kepala kadang masih belum ikut izin.

Teknologi Membuat Batas Antara Sakit dan Bekerja Semakin Tipis

Dulu mungkin kalau seseorang sakit dan gak masuk kantor, ya sudah, dia memang gak ada di kantor.

Komputer ada di meja kerja, dokumen ada di kantor, meeting juga harus datang langsung. Jadi jarak antara rumah dan tempat kerja secara gak langsung ikut membantu seseorang benar-benar berhenti kerja.

Sekarang ceritanya sudah beda.

Laptop bisa dibawa pulang.

WhatsApp selalu aktif.

Email kantor bisa dibuka lewat HP.

Meeting pun tinggal pencet link lalu kamera boleh dimatiin kalau muka lagi berantakan.

Jadi secara teknis, meskipun sedang sakit, kita masih bisa tetap bekerja dari tempat tidur.

Nah, justru kata “masih bisa” ini yang kadang jadi masalah.

Karena bisa membuka laptop bukan berarti badan sedang cukup sehat untuk bekerja. Bisa membalas WhatsApp juga bukan berarti seseorang sedang siap memikirkan pekerjaan. Bahkan bisa ikut meeting dari kasur pun bukan berarti itu sesuatu yang seharusnya dilakukan.

Tapi karena semuanya sekarang bisa dilakukan dari rumah, batas antara “sedang izin sakit” dan “sedang kerja dari rumah” jadi gampang sekali kabur.

Awalnya cuma mau buka laptop lima menit untuk kirim satu file. Habis itu sekalian balas email. Lalu ada chat masuk. Terus ada revisi kecil. Ujung-ujungnya hari yang seharusnya dipakai istirahat malah berubah jadi hari kerja biasa, cuma lokasi mejanya pindah ke atas kasur.

Saya membahas masalah ini lebih khusus di artikel Sakit Tapi Masih Buka Laptop dari Rumah, karena kebiasaan yang terlihat sepele seperti “cuma buka sebentar” kadang justru membuat kita gak pernah benar-benar lepas dari pekerjaan ketika sedang sakit.

Teknologi memang bikin kerja jadi jauh lebih mudah. Tapi di sisi lain, teknologi juga membuat kita harus lebih pintar menentukan kapan waktunya terhubung dan kapan waktunya benar-benar berhenti.

”Kalau Cuma di Rumah, Berarti Masih Bisa Kerja Dong?”

Pria sakit berbaring di tempat tidur sambil mengecek ponsel sementara pekerjaan tetap berjalan melalui laptopBerada di rumah bukan berarti seseorang yang sedang sakit otomatis siap untuk bekerja dari rumah.

Salah satu hal yang menurut saya cukup aneh dari dunia kerja sekarang adalah rumah kadang dianggap sebagai tempat istirahat sekaligus tempat kerja dalam waktu yang bersamaan.

Jadi ketika seseorang bilang sedang sakit dan gak bisa masuk kantor, kadang muncul pemikiran, “Ya sudah, kerja dari rumah aja.”

Sekilas memang terdengar masuk akal.

Toh gak perlu perjalanan ke kantor, gak perlu duduk di meja kerja, gak perlu ketemu banyak orang. Tinggal buka laptop dari rumah lalu kerja seperti biasa.

Masalahnya, izin sakit dan work from home sebenarnya adalah dua hal yang berbeda.

Sakit dan Bekerja dari Rumah Adalah Dua Kondisi yang Berbeda

WFH atau work from home berarti kita tetap bekerja, cuma tempat kerjanya yang pindah.

Biasanya tanggung jawabnya tetap sama. Tetap ada tugas yang harus diselesaikan, chat yang perlu dibalas, meeting yang harus diikuti, dan target yang harus dikerjakan.

Sedangkan izin sakit berarti kondisi tubuh kita memang sedang gak memungkinkan untuk bekerja seperti biasanya.

Jadi sederhananya:

WFH = bekerja dari lokasi yang berbeda.

Sedangkan:

izin sakit = sedang tidak dalam kondisi untuk bekerja.

Kelihatannya sederhana, tapi dalam praktiknya dua hal ini sering sekali dicampuradukkan.

Mungkin karena orang yang sakit terlihat cuma berada di rumah. Akhirnya muncul anggapan kalau selama gak perlu datang ke kantor berarti kerja masih bisa dilakukan.

Padahal sakit kan bukan soal lokasi.

Kalau kepala lagi pusing, mau duduk di kantor atau di kamar tetap saja pusing. Kalau badan demam, pindah meja kerja ke kasur juga gak otomatis bikin badan sehat. Apalagi kalau konsentrasi memang sudah berantakan, laptop secanggih apa pun gak akan banyak membantu.

Jadi masalahnya bukan “kerjanya dari mana”, tapi “orangnya memang sedang sanggup bekerja atau gak”.

Ketika Orang Sakit Masih Ditanya Apakah Bisa Bekerja

Yang bikin serba salah adalah ketika kita sudah bilang sakit, tapi kemudian masih mendapat pertanyaan seperti:

“Kalau dari rumah masih bisa kerja gak?”

Atau yang lebih halus:

“Hari ini sakit ya? Tapi kalau ada yang urgent masih bisa bantu kan?”

Nah, pertanyaan seperti ini kadang susah dijawab.

Kalau bilang bisa, takutnya malah benar-benar dikasih kerjaan.

Kalau bilang gak bisa, ada rasa gak enak sendiri. Apalagi kalau yang bertanya atasan atau pekerjaan tersebut memang sedang dibutuhkan banyak orang.

Akhirnya sebagian orang memilih jawaban aman seperti, “Saya coba ya.”

Masalahnya kata “coba” ini bisa berbahaya juga.

Karena setelah itu kita seperti memberi tanda kalau sebenarnya masih tersedia. Satu pekerjaan masuk, lalu ada pekerjaan berikutnya. Awalnya cuma diminta bantu sebentar, tahu-tahu setengah hari habis buat kerja.

Dan di sinilah izin sakit pelan-pelan berubah menjadi WFH tanpa pernah benar-benar disebut WFH.

Padahal kalau memang sedang sakit, seseorang seharusnya gak perlu membuktikan bahwa dirinya masih cukup produktif hanya karena sedang berada di rumah.

Kalau sedang menghadapi situasi seperti ini, saya membahasnya lebih khusus di artikel Sedang Sakit Tapi Masih Ditanya Bisa Kerja dari Rumah: Harus Bagaimana?.

Sedangkan kalau masalahnya lebih umum, misalnya sudah bilang sakit tapi masih terus ditanya apakah bisa kerja atau gak, bisa lanjut membaca Lagi Sakit Tapi Masih Ditanya Bisa Kerja atau Gak.

Karena kadang yang paling bikin capek ketika sakit bukan cuma badannya, tapi juga rasa serba salah antara ingin istirahat dan merasa harus tetap menunjukkan kalau kita masih bisa diandalkan.

Kenapa Banyak Orang Tetap Memaksakan Diri Bekerja Saat Sakit?

Karyawan perempuan sedang batuk dan tetap bekerja menggunakan laptop di kantorSebagian orang tetap datang dan bekerja saat sakit karena takut dianggap malas atau meninggalkan tanggung jawab.

Kalau dipikir secara sederhana, orang sakit ya seharusnya istirahat. Tapi kenyataannya banyak orang yang tetap memaksakan diri kerja meskipun kondisinya sudah gak karuan.

Dan alasannya ternyata gak selalu karena bos nyuruh.

Kadang gak ada yang maksa sama sekali, tapi kita sendiri yang merasa harus tetap kerja.

Ada rasa takut dianggap malas, gak enak sama teman kantor, khawatir kerjaan numpuk, sampai merasa kalau kita gak ada sehari saja semuanya bakal berantakan.

Takut Dianggap Malas

Ini mungkin salah satu alasan yang paling sering bikin orang mikir dua kali sebelum izin sakit.

Bukan takut sakitnya, tapi takut penilaian orang.

Takut nanti dianggap kurang profesional. Takut dikira gak kuat kerja di bawah tekanan. Takut orang kantor ngomong, “Baru gitu doang udah izin.”

Apalagi kalau sebelumnya sudah pernah izin atau kebetulan sakitnya datang di waktu yang kurang enak, misalnya pas kerjaan lagi banyak atau ada deadline besar.

Meskipun memang benar-benar sakit, tetap saja bisa muncul pikiran aneh seperti:

“Jangan-jangan mereka mikir saya cuma cari alasan.”

Akhirnya daripada kepikiran omongan orang, sebagian orang memilih tetap masuk.

Batuk-batuk ya masuk.

Badan meriang ya masuk.

Kepala berat ya tetap buka laptop.

Yang penting kelihatan kerja.

Padahal hadir dalam kondisi sakit belum tentu membuat pekerjaan jadi lebih bagus. Tapi kadang yang ingin dibuktikan bukan kemampuan bekerja, melainkan bahwa kita bukan orang malas.

Kalau rasa takut seperti ini yang sering muncul, pembahasan lebih lengkapnya ada di Tetap Masuk Kantor Saat Sakit Karena Takut Dianggap Malas.

Merasa Gak Enak kepada Teman Kantor

Selain takut dinilai malas, ada juga alasan yang menurut saya lebih manusiawi yaitu gak enak sama teman sendiri.

Karena kita tahu ketika satu orang gak masuk, pekerjaan kadang gak ikut berhenti.

Ada tugas yang mungkin harus diambil alih orang lain.

Ada pekerjaan yang harus ditunda.

Atau ada bagian yang akhirnya dibagi ke anggota tim lainnya.

Dari situ biasanya mulai muncul rasa bersalah.

“Kalau saya gak masuk, nanti siapa yang ngerjain?”

“Kasihan nanti kerjaan saya dilempar ke mereka.”

Apalagi kalau kebetulan timnya kecil dan semua orang juga lagi sibuk. Rasanya seperti kita sedang menambah beban orang lain cuma gara-gara memilih istirahat.

Padahal sakit bukan sesuatu yang kita jadwalkan.

Gak ada orang yang bangun pagi lalu berpikir, “Kayaknya hari ini enak demam deh biar kerjaan saya dikerjain teman.”

Tapi rasa gak enak itu memang tetap bisa muncul.

Bahkan ada yang akhirnya tetap kerja dari rumah hanya supaya teman kantor gak terlalu terbebani.

Masalah ini saya bahas lebih khusus di Izin Sakit Malah Merasa Gak Enak Sama Teman Kantor, karena rasa bersalah kepada rekan kerja kadang justru lebih berat daripada rasa gak enak kepada atasan.

Takut Pekerjaan Menumpuk

Ada juga orang yang tetap kerja saat sakit bukan karena takut bos atau teman kantor.

Mereka cuma takut sama kerjaannya sendiri.

Karena sudah tahu kalau satu hari ditinggal, besok mungkin ada belasan email yang harus dibuka. Ada revisi yang menunggu. Ada deadline yang makin dekat. Ditambah kerjaan baru yang pasti tetap datang.

Akhirnya muncul perhitungan sederhana:

“Mending saya kerjakan sedikit sekarang daripada besok tambah banyak.”

Masuk akal sih.

Cuma masalahnya, “sedikit” itu sering gak benar-benar sedikit.

Niat awal cuma beresin satu email.

Setelah email selesai, sekalian cek revisi.

Habis revisi, lihat ada chat masuk.

Terus sekalian balas karena tanggung.

Ujung-ujungnya malah kerja juga.

Kadang kita memang lebih takut menghadapi tumpukan pekerjaan setelah sembuh daripada menghadapi rasa gak enak badan hari ini.

Jadi daripada benar-benar berhenti, kita memilih mencicil.

Sayangnya kalau kondisi tubuh memang butuh istirahat, mencicil kerja tetap saja berarti tenaga dan pikiran kita masih dipakai untuk bekerja.

Merasa Dirinya Harus Selalu Bisa Diandalkan

Ada juga orang yang selama ini memang terkenal sebagai orang yang selalu ada.

Chat dibalas cepat.

Jarang izin.

Kalau dimintai bantuan selalu bilang bisa.

Ada kerjaan tambahan dikerjakan.

Deadline hampir selalu selesai.

Lama-lama kebiasaan seperti itu bukan cuma menjadi cara kerja, tapi juga menjadi bagian dari cara seseorang melihat dirinya sendiri.

“Saya kan orang yang bisa diandalkan.”

Nah, begitu sakit, rasanya seperti ada sesuatu yang salah.

Mau bilang gak bisa malah gak enak.

Mau gak balas chat rasanya aneh.

Mau benar-benar menghilang sehari dari urusan kerja juga terasa seperti bukan diri sendiri.

Akhirnya meskipun sedang sakit, tetap berusaha muncul.

Minimal balas chat.

Minimal cek email.

Minimal memastikan semuanya aman.

Padahal menjadi orang yang bisa diandalkan bukan berarti harus selalu tersedia setiap saat.

Karena sehebat apa pun seseorang mengatur pekerjaannya, tetap ada saat di mana badan memang gak bisa diajak kompromi.

Dan mungkin justru di situ masalahnya.

Kadang kita terlalu sibuk menjaga image sebagai orang yang rajin, bertanggung jawab, dan selalu siap sampai lupa kalau kita juga punya batas.

Budaya Kerja yang Membuat Orang Takut Mengambil Izin Sakit

Kalau sebelumnya masalahnya banyak datang dari pikiran kita sendiri, kali ini masalahnya bisa datang dari lingkungan tempat kita kerja.

Karena mau gak mau, budaya di kantor punya pengaruh cukup besar terhadap cara seseorang melihat izin sakit.

Kalau dari awal lingkungannya santai dan menganggap sakit ya sakit, mungkin orang juga lebih berani buat istirahat.

Tapi kalau suasananya seperti siapa yang paling jarang izin adalah manusia paling berdedikasi sedunia, ceritanya bisa beda.

Bangga Karena Jarang Mengambil Cuti atau Izin

Entah kenapa di beberapa tempat kerja, jarang izin kadang seperti sebuah prestasi.

Ada orang yang dengan bangga bilang:

“Saya setahun ini belum pernah izin sakit.”

Atau:

“Dulu demam juga saya tetap masuk.”

Kalimat seperti itu sebenarnya bisa saja cuma cerita biasa. Tapi kalau terlalu sering dijadikan standar, lama-lama muncul anggapan kalau orang yang tetap masuk meskipun sakit berarti pekerja keras.

Sedangkan yang memilih istirahat malah seolah kurang tahan banting.

Padahal belum tentu juga.

Orang yang datang ke kantor dalam kondisi sakit belum tentu lebih produktif. Bisa saja badannya ada di kantor, tapi pikirannya sudah minta pulang dari jam sembilan pagi.

Belum lagi kalau sakitnya menular.

Niatnya mau menunjukkan dedikasi, malah satu ruangan ikut batuk semua.

Jadi menurut saya, ukuran pekerja keras seharusnya bukan seberapa sering seseorang memaksakan diri tetap masuk ketika sakit.

Lebih masuk akal kalau dinilai dari bagaimana dia menjalankan pekerjaannya ketika memang dalam kondisi sehat dan mampu bekerja.

Karena tubuh punya batas.

Mau serajin apa pun orangnya, kalau sedang sakit ya tetap saja sakit.

Ketika Izin Sakit Harus Disertai Rasa Bersalah

Masalah lain muncul ketika izin sakit terasa seperti harus melewati sebuah ujian dulu.

Gak cukup cuma bilang sedang sakit.

Kadang rasanya harus menjelaskan panjang lebar.

Sakitnya apa.

Sejak kapan.

Seberapa parah.

Sudah minum obat atau belum.

Bisa kerja sedikit atau gak.

Besok kira-kira masuk atau belum.

Akhirnya pesan izin yang seharusnya sederhana malah dibuat seperti surat pembelaan di pengadilan.

Belum lagi kebiasaan meminta maaf berkali-kali.

“Maaf banget saya izin hari ini.”

“Maaf jadi merepotkan.”

“Maaf kerjaannya belum selesai.”

“Maaf kalau nanti ada yang harus handle.”

Padahal kita lagi sakit, tapi rasanya malah seperti habis melakukan kesalahan besar.

Tentu komunikasi tetap penting. Atasan dan tim memang perlu tahu kondisi kita supaya pekerjaan bisa diatur.

Tapi beda antara memberi informasi dengan merasa harus meyakinkan semua orang bahwa kita benar-benar pantas buat sakit.

Apalagi kalau sebelumnya pernah melihat orang lain dipertanyakan ketika izin.

Misalnya ada komentar seperti:

“Sering banget sakit.”

Atau:

“Kemarin masih kelihatan sehat.”

Kalimat kecil seperti itu bisa bikin orang lain ikut takut mengambil izin.

Mereka jadi mikir dua kali.

Kalau izin, takut dinilai negatif.

Kalau gak izin, badan sebenarnya sudah gak kuat.

Akhirnya pilihannya jadi sama-sama gak enak.

Dan kalau kondisi seperti ini sudah menjadi kebiasaan di tempat kerja, wajar kalau banyak karyawan akhirnya memaksakan diri masuk bukan karena mereka sehat, tapi karena mereka takut bagaimana izin tersebut akan dilihat oleh orang lain.

Masalah ini saya bahas lebih khusus di Kenapa Banyak Karyawan Takut Mengambil Izin Sakit?, karena rasa takut untuk izin sering kali bukan muncul dalam satu hari saja, tapi terbentuk dari pengalaman dan budaya kerja yang terus berulang.

Pada akhirnya, lingkungan kerja yang sehat seharusnya gak membuat orang merasa harus membuktikan sakitnya dulu baru boleh istirahat.

Karena kalau untuk bilang “saya sakit” saja sudah bikin deg-degan, mungkin yang bermasalah bukan cuma kondisi badan orangnya.

Tekanan untuk Tetap Produktif Bahkan Ketika Sedang Sakit

Pria sakit di tempat tidur menghadapi notifikasi kerja dan rapat online melalui laptopChat, notifikasi, dan meeting membuat waktu istirahat mudah berubah kembali menjadi waktu kerja.

Tekanan untuk tetap kerja saat sakit itu gak selalu datang dalam bentuk perintah yang jelas.

Gak harus ada orang yang bilang:

“Kamu tetap kerja ya meskipun sakit.”

Kadang justru bentuknya jauh lebih halus.

Kita sudah bilang sedang sakit dan izin istirahat, tapi chat kerjaan tetap masuk seperti biasa.

Ada yang nanya perkembangan tugas.

Ada yang minta file.

Ada yang bilang cuma perlu bantuan sebentar.

Ada juga yang ngajak meeting karena katanya paling cuma lima belas menit.

Nah, masalahnya sesuatu yang “cuma sebentar” ini kalau dikumpulkan kadang bisa jadi panjang juga.

Lima menit balas chat.

Sepuluh menit cari file.

Lima belas menit meeting.

Habis meeting ada tambahan yang harus dicek.

Tahu-tahu waktu istirahat sudah kepotong ke mana-mana.

Dan karena gak ada perintah langsung untuk bekerja seharian, kita kadang merasa hal seperti ini bukan kerja.

Padahal ya tetap kerja juga.

Tekanan Gak Selalu Berbentuk Paksaan

Ada perbedaan antara seseorang benar-benar memaksa dan membuat situasi di mana kita merasa sulit untuk bilang tidak.

Misalnya ada chat seperti:

“Kalau sempat tolong cek ini ya.”

Kelihatannya santai.

Ada kata “kalau sempat”.

Gak ada ancaman.

Gak ada perintah keras.

Tapi orang yang menerimanya bisa saja tetap merasa harus mengerjakan.

Apalagi kalau yang mengirim adalah orang yang punya hubungan langsung dengan pekerjaan kita.

Akhirnya daripada dianggap gak membantu, kita buka juga.

Begitu juga ketika ditanya:

“Progress yang kemarin sudah sampai mana?”

Pertanyaannya memang cuma soal progress.

Tapi dari situ kita bisa merasa harus menjelaskan, lalu sekalian cek kerjaan, lalu sekalian menyelesaikan sedikit.

Hal-hal kecil seperti inilah yang bikin orang sakit susah benar-benar lepas dari pekerjaan.

”Cuma Sedikit” Tetap Menggunakan Tenaga

Kadang ada anggapan kalau kerja sedikit saat sakit gak masalah.

Toh cuma buka laptop sebentar.

Cuma balas email.

Cuma ikut meeting.

Tapi yang sering dilupakan adalah saat sakit, tenaga kita juga gak sama seperti saat sehat.

Hal yang biasanya selesai dalam sepuluh menit bisa terasa jauh lebih berat.

Konsentrasi juga bisa berkurang.

Belum lagi kalau habis melakukan satu pekerjaan, pikiran malah kembali aktif dan susah istirahat.

Jadi walaupun pekerjaannya terlihat kecil, efeknya ke orang yang sedang sakit belum tentu kecil juga.

Diminta Tetap Standby

Ini juga termasuk bentuk tekanan yang agak unik.

Kita boleh istirahat.

Kita gak diminta mengerjakan apa-apa dulu.

Tapi ada tambahan:

“HP-nya jangan jauh-jauh ya, kalau ada apa-apa nanti saya hubungi.”

Sekilas gak ada masalah.

Tapi kalau sudah diminta standby, rasanya kita gak pernah benar-benar bebas.

Mau tidur takut ada telepon.

Mau matikan notifikasi takut ada chat penting.

Mau taruh HP jauh-jauh juga kepikiran kalau tiba-tiba dicari.

Akhirnya badan memang istirahat, tapi kepala tetap dalam mode siap kerja.

Seperti sedang libur tapi duduk di dekat pintu sambil nunggu siapa tahu ada yang manggil.

Dan menurut saya justru tekanan seperti ini yang kadang lebih susah dikenali.

Karena gak ada yang benar-benar bilang kita harus kerja.

Tapi kita juga gak merasa benar-benar boleh berhenti.

Kalau hal seperti ini sering terjadi, pembahasan yang lebih khusus ada di Tekanan untuk Tetap Bekerja Saat Sakit.

Karena pada akhirnya, tekanan dalam dunia kerja gak selalu berbentuk bentakan atau perintah langsung.

Kadang cuma sebuah chat pendek.

Kadang cuma satu pertanyaan.

Kadang cuma kalimat “kalau sempat”.

Tapi kalau kita sedang sakit dan terus merasa harus merespons semuanya, ya tetap saja namanya belum benar-benar istirahat.

Ketika Atasan Tetap Memberikan Pekerjaan Saat Kita Sedang Sakit

Kalau tekanan dari teman kantor atau grup kerja kadang masih bisa kita abaikan, ceritanya bisa beda kalau yang menghubungi adalah atasan.

Karena begitu nama atasan muncul di layar HP, rasa “nanti aja deh” kadang langsung berubah jadi “kayaknya harus dibalas sekarang.”

Apalagi kalau isi pesannya berkaitan dengan pekerjaan.

”Cuma Sebentar” Sering Berubah Menjadi Pekerjaan Penuh

Biasanya memang gak langsung dimulai dengan sesuatu yang berat.

Kadang cuma:

“Tolong kirim satu file saja.”

Ya sudah, kita buka laptop.

Cari file.

Kirim.

Selesai.

Harusnya sih selesai.

Tapi beberapa menit kemudian masuk lagi:

“Sekalian cek ini ya.”

Karena laptop sudah kebuka, kita cek juga.

Habis itu muncul lagi:

“Nanti ikut meeting sebentar ya, cuma buat kasih update.”

Nah, dari yang awalnya cuma kirim satu file, akhirnya kita sudah duduk di depan laptop, buka beberapa dokumen, balas chat, dan ikut meeting.

Tahu-tahu setengah hari lewat.

Lucunya, semua itu masih terasa seperti pekerjaan kecil karena dilakukan satu per satu.

Padahal kalau dikumpulkan ya kerja juga.

Dan orang yang tadinya izin sakit akhirnya tetap menjalani sebagian besar hari seperti hari kerja biasa, cuma bedanya mungkin sambil pakai selimut dan sesekali minum obat.

Masalahnya bukan satu file atau satu meetingnya.

Masalahnya adalah ketika pekerjaan kecil terus ditambahkan sampai waktu istirahat gak benar-benar tersisa.

Sulit Menolak Karena Ada Hubungan Atasan dan Bawahan

Secara teori mungkin gampang bilang:

“Kalau sakit ya tinggal bilang gak bisa.”

Tapi dalam praktiknya gak selalu segampang itu.

Ada hubungan atasan dan bawahan yang bikin sebuah permintaan terasa berbeda.

Kalau teman kantor minta bantuan, kita mungkin masih cukup nyaman bilang:

“Maaf ya, saya lagi gak kuat.”

Tapi kalau yang minta atasan, pikiran bisa ke mana-mana.

Takut dianggap gak kooperatif.

Takut dikira susah diajak kerja sama.

Takut performa kita nanti dinilai jelek.

Atau sesederhana takut bikin atasan kecewa.

Akhirnya meskipun sebenarnya ingin bilang gak sanggup, jawaban yang keluar malah:

“Baik, saya coba.”

Dua kata itu lagi.

“Saya coba.”

Padahal badannya sendiri mungkin sudah gak mau mencoba apa-apa selain tidur.

Di sinilah ketimpangan posisi punya pengaruh besar.

Sebuah permintaan dari atasan gak selalu terasa seperti permintaan biasa, meskipun bahasanya sopan. Karena karyawan tetap tahu siapa yang punya pengaruh lebih besar dalam hubungan kerja tersebut.

Makanya gak heran kalau sebagian orang memilih mengerjakan dulu daripada mengambil risiko dianggap menolak.

Dan kalau hal seperti ini terus berulang, lama-lama izin sakit kehilangan artinya.

Namanya izin, tapi masih harus siap kerja.

Namanya istirahat, tapi tetap harus buka laptop.

Kalau situasi seperti ini sering terjadi, saya membahasnya lebih khusus di Atasan Tetap Memberi Kerjaan Meski Karyawan Sedang Sakit.

Karena satu hal yang kelihatannya sepele seperti “cuma bantu sebentar” bisa jadi masalah kalau akhirnya membuat orang yang sedang sakit merasa gak punya pilihan selain tetap bekerja.

Sudah Gak Enak Badan, Tapi Masih Bilang “Saya Masih Kuat”

Kadang orang gak langsung memutuskan izin begitu badan mulai terasa gak enak.

Soalnya sakit itu sering datang pelan-pelan.

Pagi-pagi badan mulai pegal.

Kepala terasa agak berat.

Tenggorokan mulai gak enak.

Batuk satu dua kali.

Atau badan terasa lebih hangat dari biasanya.

Tapi karena belum sampai tumbang, biasanya kita masih bilang:

“Ah paling nanti juga sembuh.”

Lalu tetap kerja seperti biasa.

Karena Belum Parah, Kita Merasa Masih Bisa

Ini yang sering jadi jebakan.

Selama masih bisa berdiri, masih bisa mandi, masih bisa buka laptop, rasanya belum pantas buat izin.

Apalagi kalau sakitnya belum kelihatan “serius”.

Gak sampai demam tinggi.

Gak sampai muntah-muntah.

Gak sampai harus tiduran seharian.

Akhirnya kita merasa masih cukup kuat buat lanjut.

Padahal tubuh sebenarnya sudah mulai kasih sinyal kalau ada yang gak beres.

Masalahnya, kita sering menunggu sampai kondisinya benar-benar parah baru menganggap sakit itu serius.

Kalau baru pusing sedikit, dianggap biasa.

Kalau badan pegal, paling kurang tidur.

Kalau susah konsentrasi, mungkin belum ngopi.

Pokoknya selalu ada alasan buat bilang kalau semuanya masih aman.

”Nanti Juga Mendingan”

Kalimat ini mungkin salah satu kalimat favorit orang yang mulai sakit tapi masih pengen kerja.

“Nanti juga mendingan.”

Harapannya mungkin setelah sarapan badan enakan.

Kalau belum, nanti setelah minum kopi.

Kalau masih belum, mungkin setelah makan siang.

Tahu-tahu sudah sore dan kondisi malah tambah gak karuan.

Tapi karena dari pagi sudah terlanjur kerja, rasanya sayang juga kalau berhenti di tengah jalan.

Akhirnya diterusin lagi.

Yang tadinya cuma kepala agak berat, lama-lama jadi susah fokus.

Mau baca satu email saja harus dua atau tiga kali.

Ada orang ngomong di meeting masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Ngetik pun mulai banyak salah.

Di titik seperti itu sebenarnya tubuh sudah cukup jelas bilang kalau dia butuh istirahat.

Cuma kitanya saja yang masih sibuk bilang, “Sedikit lagi.”

Memaksakan Diri Kadang Terasa Lebih Mudah daripada Mengaku Sedang Sakit

Ada juga situasi di mana mengakui bahwa kita sedang gak kuat terasa lebih susah daripada tetap kerja.

Karena begitu bilang sakit, kita harus memutuskan:

Perlu izin atau gak?

Perlu kasih tahu atasan atau gak?

Kerjaan hari ini gimana?

Meeting siapa yang gantiin?

Belum lagi kalau ada deadline.

Daripada mikirin semuanya, akhirnya kita memilih jalan paling sederhana:

Ya sudah, kerja aja dulu.

Padahal sederhana di awal belum tentu sederhana di akhirnya.

Kalau kondisi badan terus menurun, pekerjaan juga bisa semakin susah diselesaikan.

Yang biasanya selesai satu jam bisa jadi dua jam.

Yang biasanya gampang dipikirin malah bikin kepala makin berat.

Jadi bertahan bukan selalu berarti pekerjaan jadi lebih cepat selesai.

Kadang kita cuma berhasil membuat diri sendiri capek lebih lama.

Kalau sering mengalami kondisi seperti ini, saya membahasnya lebih khusus di Sudah Gak Enak Badan Tapi Masih Memaksakan Diri Kerja.

Karena gak harus menunggu sampai benar-benar tumbang dulu baru kita boleh mengakui kalau badan sedang gak baik-baik saja.

Kadang badan sudah ngomong dari pagi.

Cuma kita saja yang pura-pura gak dengar.

Kerjaan Lebih Penting dari Kesehatan?

Kalau sudah ngomongin soal kerja dan kesehatan, kadang pembahasannya suka dibuat seolah-olah kita harus memilih salah satu.

Seakan-akan kalau kita bilang kesehatan lebih penting berarti kerja gak penting.

Padahal ya gak sesederhana itu juga.

Pekerjaan Memang Penting

Mau bagaimanapun, pekerjaan memang punya tempat penting dalam hidup.

Dari kerja kita dapat penghasilan.

Dari penghasilan itu kita bayar makan, bayar tempat tinggal, bantu keluarga, bayar cicilan, beli kebutuhan sehari-hari, dan mungkin sesekali beli sesuatu yang sebenarnya gak terlalu butuh tapi pengen aja.

Belum lagi urusan karier.

Ada target yang ingin dicapai.

Ada tanggung jawab yang harus dijaga.

Ada orang lain yang mungkin bergantung pada pekerjaan kita.

Jadi kalau ada orang yang tetap memikirkan kerjaan ketika sakit, saya rasa gak semuanya bisa langsung dibilang terlalu ambisius atau terlalu cinta kantor.

Kadang memang ada alasan yang nyata.

Misalnya takut pendapatan terganggu.

Takut pekerjaan gak selesai.

Atau ada tanggung jawab yang rasanya gak bisa ditinggal begitu saja.

Apalagi kalau sudah punya keluarga.

Kerja bukan lagi sekadar soal diri sendiri.

Ada kebutuhan rumah yang harus jalan terus meskipun badan kita kebetulan sedang gak enak.

Jadi wajar kalau pekerjaan dianggap penting.

Yang mungkin perlu dipikirkan adalah ketika kata “penting” pelan-pelan berubah menjadi “harus selalu didahulukan dalam kondisi apa pun”.

Nah, di situ ceritanya mulai beda.

Tapi Kesehatan Adalah Sesuatu yang Membuat Kita Bisa Bekerja

Kadang kita terlalu fokus mempertahankan pekerjaan sampai lupa sama alat utama yang dipakai buat mengerjakan pekerjaan tersebut.

Yaitu badan sendiri.

Laptop kalau mulai panas biasanya kita kasih istirahat.

HP kalau baterainya tinggal satu persen langsung buru-buru cari charger.

Tapi giliran badan sendiri sudah lemes, kepala berat, mata susah fokus, masih saja bilang:

“Sedikit lagi.”

Lucu juga sebenarnya.

Karena tanpa kondisi tubuh yang cukup baik, kemampuan kita buat bekerja juga pasti ikut terpengaruh.

Kita bisa memaksakan diri satu hari.

Mungkin dua hari.

Tapi kalau kebiasaan mengabaikan kondisi badan terus dilakukan, ya suatu saat pekerjaan juga bisa ikut kena dampaknya.

Konsentrasi menurun.

Lebih gampang bikin kesalahan.

Kerjaan terasa lebih berat.

Dan yang seharusnya bisa dikerjakan dengan kepala jernih malah selesai sambil setengah sadar.

Jadi kesehatan dan pekerjaan sebenarnya gak perlu dipertentangkan.

Keduanya saling berhubungan.

Kita bekerja supaya bisa menjalani hidup.

Tapi kita juga butuh kondisi tubuh yang cukup baik supaya bisa terus bekerja.

Kalau kesehatan terus-terusan dikorbankan demi pekerjaan, lama-lama yang rugi bukan cuma badan, tapi pekerjaan itu sendiri juga bisa ikut terganggu.

Kalau ingin membahas pertanyaan ini lebih jauh, saya sudah menulisnya secara khusus di Kerjaan Lebih Penting dari Kesehatan, Memangnya Iya?.

Karena menurut saya masalahnya bukan memilih kerja atau kesehatan.

Masalahnya adalah jangan sampai kita baru sadar kesehatan itu penting setelah badan benar-benar gak bisa diajak kerja sama.

Fenomena “Presenteeism”: Hadir Kerja Tapi Sebenarnya Tidak Fit

Karyawan perempuan terlihat tidak fit dan memegang kepala sambil bekerja menggunakan laptop di kantorHadir di kantor tidak selalu berarti seseorang berada dalam kondisi terbaik untuk bekerja.

Ada satu istilah yang cukup pas buat menggambarkan kebiasaan tetap kerja meskipun kondisi badan sebenarnya gak mendukung, yaitu presenteeism.

Bahasanya memang agak keren, tapi gambaran sederhananya ya seperti ini:

Orangnya memang hadir di kantor.

Laptop juga terbuka.

Statusnya juga masuk kerja.

Tapi kepala pusing, badan meriang, mata sudah berat, dan satu paragraf dibaca tiga kali masih saja gak ngerti isinya ngomongin apa.

Jadi secara kehadiran memang ada, tapi kemampuan buat bekerja belum tentu ada di kondisi terbaik.

Dan menurut saya ini penting juga buat dibahas, karena kadang kita terlalu gampang menganggap:

masuk kerja = produktif.

Padahal belum tentu.

Hadir Bukan Berarti Bisa Bekerja Seperti Biasa

Waktu badan sehat, mungkin kita bisa menyelesaikan sebuah pekerjaan dalam satu jam.

Tapi ketika sedang gak enak badan, pekerjaan yang sama bisa terasa dua kali lebih berat.

Mau mikir susah.

Mau fokus susah.

Baru mulai kerja sebentar sudah pengen rebahan.

Belum lagi kalau kepala lagi pusing.

Buka spreadsheet rasanya angka semua seperti ngajak berantem.

Baca email panjang baru sampai tengah sudah lupa paragraf pertama ngomongin apa.

Akhirnya pekerjaan tetap dilakukan, tapi kecepatannya belum tentu sama seperti biasanya.

Dan ini bukan berarti orangnya tiba-tiba jadi malas atau gak becus kerja.

Ya karena memang sedang sakit saja.

Risiko Bikin Kesalahan Juga Bisa Bertambah

Kalau konsentrasi sedang gak bagus, kemungkinan melakukan kesalahan tentu bisa ikut meningkat.

Salah ketik mungkin masih sepele.

Tapi bisa juga salah baca instruksi.

Lupa mengirim sesuatu.

Salah memasukkan data.

Atau sudah merasa pekerjaannya selesai, besok pas badan mulai enakan baru sadar:

“Lho, kemarin saya ngapain?”

Yang akhirnya bikin kerjaan harus diperiksa ulang.

Jadi niat awalnya mungkin tetap masuk supaya pekerjaan gak terbengkalai, tapi kalau kondisinya memang gak memungkinkan, hasilnya belum tentu lebih efektif.

Bisa saja malah muncul pekerjaan tambahan gara-gara ada yang harus diperbaiki lagi.

Kerja Lebih Lama Belum Tentu Berarti Kerja Lebih Banyak

Ini juga salah satu hal yang gampang bikin terkecoh.

Karena kita mungkin duduk di depan laptop selama delapan jam seperti biasanya, lalu merasa sudah berhasil bertahan satu hari penuh.

Tapi delapan jam saat sehat dan delapan jam saat sakit jelas bisa terasa sangat berbeda.

Saat sehat mungkin dalam satu jam sudah selesai beberapa hal.

Saat sakit, setengah jam pertama malah dipakai menatap layar sambil mikir:

“Tadi saya mau ngapain ya?”

Habis itu bikin teh.

Balik lagi.

Baca email.

Pusing.

Rebahan sebentar.

Jadi kelihatannya tetap kerja seharian, tapi belum tentu jumlah maupun kualitas pekerjaan yang selesai sama dengan hari biasa.

Istirahat yang Terus Terganggu Juga Bukan Istirahat Penuh

Ada satu hal lagi yang kadang luput.

Kalau badan sedang sakit tapi tetap terus digunakan untuk bekerja, waktu yang seharusnya dipakai buat istirahat otomatis ikut terpotong.

Kita mungkin memang tetap tidur malam seperti biasa.

Tapi sepanjang siang tubuh dan pikiran masih dipakai untuk meeting, membalas pesan, mengejar deadline, dan menyelesaikan pekerjaan.

Akibatnya kita gak benar-benar memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti dari aktivitas kerja.

Makanya memaksakan diri hadir ketika sakit gak selalu menjadi pilihan yang paling produktif.

Kadang kelihatannya seperti kita berhasil menyelamatkan satu hari kerja.

Padahal kalau sepanjang hari cuma bisa bekerja setengah-setengah sambil menahan badan yang gak enak, rasanya patut dipertanyakan juga apa yang sebenarnya sedang kita selamatkan.

Karena pada akhirnya, hadir di tempat kerja dan benar-benar siap bekerja itu dua hal yang berbeda.

Kadang orangnya memang ada.

Laptopnya nyala.

Chat-nya juga masih dibalas.

Tapi tubuhnya dari tadi sebenarnya sudah bilang:

“Bos, saya pengen pulang.”

Kenapa Istirahat Saat Sakit Malah Membuat Kita Merasa Bersalah?

Pria sedang beristirahat di tempat tidur dengan laptop dan ponsel diletakkan di mejaIstirahat saat sakit seharusnya menjadi bagian dari pemulihan, bukan sesuatu yang membuat kita merasa bersalah.

Ini mungkin bagian yang paling aneh.

Kita tahu sedang sakit.

Kita tahu badan butuh istirahat.

Kita juga tahu kalau dipaksakan hasil kerja belum tentu bagus.

Tapi begitu benar-benar berhenti kerja, malah muncul rasa gak enak.

Seperti ada suara kecil di kepala yang bilang:

“Yakin mau rebahan seharian?”

“Kerjaan masih banyak lho.”

“Orang lain pada kerja, kamu malah tidur.”

Padahal ya kita lagi sakit.

Tapi entah kenapa, istirahat masih sering terasa seperti sesuatu yang harus dibenarkan.

Kita Terlalu Terbiasa Mengukur Diri dari Produktivitas

Mungkin salah satu penyebabnya karena kita terlalu terbiasa menilai sebuah hari dari seberapa banyak yang berhasil dikerjakan.

Kalau hari ini banyak kerjaan selesai, rasanya puas.

Checklist penuh centang.

Email beres.

Deadline aman.

Pulang kerja rasanya seperti manusia berguna.

Tapi kalau satu hari cuma dipakai tidur, makan, minum obat, lalu tidur lagi, kadang muncul perasaan kalau hari itu terbuang percuma.

Padahal kalau sedang sakit, ya memang mungkin itu yang perlu dilakukan.

Masalahnya kita sudah terlalu terbiasa dengan pikiran:

produktif = hari yang bagus.

Sedangkan:

gak menghasilkan apa-apa = hari yang sia-sia.

Akhirnya bahkan ketika tubuh sedang gak sehat, kita masih pengen punya sesuatu yang bisa ditunjukkan di akhir hari.

Minimal balas email lah.

Minimal beresin satu pekerjaan lah.

Minimal buka laptop lah.

Pokoknya harus ada sesuatu supaya gak merasa cuma tiduran doang.

Padahal kalau dipikir lagi, saat sakit mungkin “pekerjaan” utama kita memang cuma satu:

istirahat.

Cuma karena istirahat gak menghasilkan file, laporan, atau checklist yang bisa dicentang, kita sering menganggapnya bukan sesuatu yang berguna.

Ada Perasaan Sedang Mengecewakan Orang Lain

Rasa bersalah juga sering muncul karena kita merasa ketidakhadiran kita bikin hidup orang lain tambah susah.

Atasan mungkin harus mengatur ulang pekerjaan.

Teman kantor mungkin harus mengambil sebagian tugas.

Deadline mungkin harus digeser.

Ada pekerjaan yang mungkin harus menunggu sampai kita kembali.

Dari situ mulai muncul pikiran:

“Duh, gara-gara saya jadi ngerepotin semua orang.”

Apalagi kalau kita tahu teman satu tim juga sedang banyak kerjaan.

Rasanya makin gak enak.

Seolah-olah dengan sakit, kita sedang menyerahkan masalah kita kepada orang lain.

Padahal dalam sebuah pekerjaan yang melibatkan banyak orang, situasi seperti ini sebenarnya bisa saja terjadi.

Hari ini kita yang sakit.

Minggu depan mungkin orang lain.

Ada hari ketika kita dibantu orang.

Ada juga hari ketika kita yang membantu.

Tapi kalau sedang berada di posisi yang harus dibantu, memang kadang lebih susah menerimanya.

Kita lebih gampang bilang kepada teman:

“Udah, istirahat aja dulu.”

Tapi giliran diri sendiri yang sakit malah bilang:

“Kayaknya saya masih bisa bantu sedikit deh.”

Manusia memang kadang suka gak adil sama diri sendiri.

Kita Sering Menganggap Istirahat sebagai Hadiah

Ada lagi kebiasaan yang menurut saya cukup berpengaruh.

Kita sering menganggap istirahat sebagai hadiah.

Misalnya:

“Nanti kalau kerjaan selesai baru istirahat.”

“Atur ini dulu, habis itu tidur.”

“Beresin deadline dulu, nanti weekend bisa santai.”

Jadi istirahat seperti sesuatu yang baru boleh didapat setelah kita menyelesaikan kewajiban.

Kalau belum selesai kerja, rasanya belum pantas istirahat.

Pola pikir seperti ini mungkin gak terlalu terasa ketika badan sehat.

Tapi ketika sakit, masalahnya jadi kelihatan.

Karena kita masih memakai aturan yang sama:

kerja dulu, istirahat belakangan.

Padahal saat tubuh sedang gak sehat, urutannya kadang memang harus dibalik.

Istirahat dulu.

Kerjaan nanti.

Bukan karena malas.

Bukan karena gak bertanggung jawab.

Tapi karena kondisi badan memang sedang butuh itu.

Istirahat ketika sakit bukan bonus setelah kita berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

Bukan hadiah karena sudah bekerja keras.

Dan bukan sesuatu yang harus kita “dapatkan” dulu dengan cara memaksakan diri sampai benar-benar tumbang.

Istirahat adalah kebutuhan.

Sama seperti makan ketika lapar atau tidur ketika mengantuk.

Mungkin yang perlu diubah bukan seberapa kuat kita memaksakan diri kerja saat sakit.

Tapi cara kita melihat istirahat itu sendiri.

Karena kalau setiap kali berhenti kerja kita selalu merasa bersalah, lama-lama bahkan sakit pun gak pernah benar-benar memberi kita izin untuk berhenti.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Sedang Sakit?

Kalau sudah sampai di titik badan benar-benar gak enak, mungkin yang paling susah justru bukan istirahatnya.

Yang susah adalah berhenti meyakinkan diri sendiri kalau semuanya masih bisa dipaksakan.

Karena seperti yang sudah dibahas dari awal, banyak orang baru mau berhenti kalau kondisinya sudah benar-benar parah.

Padahal gak harus nunggu sampai tumbang dulu.

Akui Dulu Kalau Kondisi Tubuh Memang Sedang Gak Baik

Kadang langkah pertama justru sesederhana mengakui:

“Ya, saya lagi sakit.”

Kedengarannya gampang.

Tapi praktiknya belum tentu.

Karena kita sering masih mencari alasan.

“Mungkin cuma kurang tidur.”

“Paling nanti siang juga enakan.”

“Masih bisa kok.”

Padahal kalau badan sudah terasa gak seperti biasanya dan kemampuan buat kerja mulai terganggu, ya gak ada salahnya mengakui kalau kondisi memang sedang gak baik.

Gak perlu nunggu sampai badan benar-benar menyerah dulu baru berhenti.

Komunikasikan Kondisi Secara Jelas

Kalau memang perlu izin, sampaikan dengan jelas.

Gak harus bikin cerita panjang seperti sedang membuktikan sesuatu.

Cukup jelaskan kalau kondisi sedang tidak memungkinkan untuk bekerja dan kalau memang ada hal penting yang perlu diketahui tim, sampaikan seperlunya.

Yang penting informasinya jelas.

Bukan malah setengah-setengah seperti:

“Saya sakit sih, tapi nanti coba online.”

Kalimat seperti itu kadang justru bikin orang lain bingung.

Ini sebenarnya izin sakit atau tetap kerja?

Dan gak perlu juga merasa harus minta maaf berkali-kali hanya karena badan sedang gak sehat.

Memberi kabar tetap penting.

Tapi merasa bersalah terus-terusan gak bikin badan sembuh lebih cepat.

Tentukan Batas Antara Izin Sakit dan WFH

Kalau memang mengambil izin sakit, sebisa mungkin jangan diam-diam mengubahnya menjadi hari WFH.

Ini memang gampang diucapkan, tapi susah dilakukan.

Karena laptop ada di rumah.

HP juga di tangan.

Tinggal buka sebentar.

Tapi ya itu tadi, “sebentar” kadang punya bakat luar biasa untuk berubah jadi satu jam.

Kalau memang masih cukup sehat dan memilih bekerja dari rumah, itu satu kondisi.

Tapi kalau sudah memutuskan izin karena gak sanggup bekerja, ya izinkan diri sendiri untuk benar-benar gak bekerja.

Jangan statusnya izin sakit, tapi dari pagi sampai sore tetap balas chat, buka dokumen, dan ikut meeting.

Kalau seperti itu, yang istirahat mungkin cuma badan dari perjalanan ke kantor.

Kerjaannya sendiri tetap jalan seperti biasa.

Matikan Mode “Selalu Tersedia”

Kalau memungkinkan, coba kurangi hal-hal yang bikin pikiran terus balik ke pekerjaan.

Laptop gak harus ditaruh di samping kasur.

Grup kantor gak harus dicek lima menit sekali.

Notifikasi tertentu juga bisa dimatikan sementara kalau memang gak ada kebutuhan mendesak.

Karena kadang masalahnya bukan kita sengaja mau kerja.

Tapi begitu notifikasi muncul, tangan refleks buka.

Habis buka, baca.

Habis baca, kepikiran.

Habis kepikiran, akhirnya balas.

Terus kerja lagi.

Kalau memang sedang istirahat, sedikit jarak dari urusan kantor bisa membantu kepala ikut berhenti juga.

Gak harus menghilang dari dunia.

Cuma gak perlu juga jadi customer service kantor yang online 24 jam.

Fokus pada Pemulihan

Tujuan istirahat saat sakit bukan buat kabur dari tanggung jawab.

Bukan juga mencari alasan supaya gak kerja.

Tujuannya sederhana:

supaya kondisi bisa membaik dan kita bisa kembali menjalankan aktivitas dengan lebih normal.

Karena kalau memaksakan diri cuma supaya kelihatan tetap produktif, tapi akhirnya kondisi malah makin gak enak, ya kita juga yang repot.

Kerjaan tetap ada.

Badan malah tambah capek.

Jadi kalau memang sedang sakit, gak ada salahnya untuk sementara menjadikan pemulihan sebagai prioritas.

Tidur kalau memang butuh tidur.

Makan dan minum dengan cukup.

Ikuti anjuran tenaga kesehatan kalau memang sedang mendapat perawatan.

Dan kalau gejalanya berat, memburuk, atau terasa mengkhawatirkan, jangan cuma mengandalkan istirahat sendiri.

Pada akhirnya tujuan berhenti kerja sementara bukan supaya kita menjauh dari pekerjaan selamanya.

Justru supaya ketika kembali, kita datang dalam kondisi yang lebih siap.

Karena kadang cara paling masuk akal untuk bisa kerja lagi ya memang dengan berhenti kerja dulu sebentar.

Kalau Tetap Dipaksa Bekerja Saat Sakit, Harus Bagaimana?

Nah, masalahnya kadang kita sudah melakukan semua yang seharusnya.

Sudah bilang sedang sakit.

Sudah izin.

Sudah menjelaskan kalau kondisi memang gak memungkinkan buat kerja.

Tapi kerjaan tetap saja datang.

Kalau cuma sekali mungkin masih bisa dianggap keadaan tertentu. Tapi kalau setiap kali sakit selalu terjadi hal yang sama, lama-lama ya capek juga.

Apalagi kalau kita sendiri bingung harus bersikap bagaimana.

Mau nolak takut dianggap gak kooperatif.

Mau dikerjakan badan sudah gak kuat.

Akhirnya serba salah lagi.

Jelaskan Kondisi dengan Jelas

Kalau memang sedang gak sanggup bekerja, coba sampaikan kondisi dengan jelas.

Bukan berarti harus cerita panjang lebar soal semua gejala yang dirasakan.

Tapi jangan juga memberi jawaban yang terlalu abu-abu kalau sebenarnya memang gak bisa kerja.

Misalnya daripada bilang:

“Saya coba nanti ya.”

Padahal sebenarnya kepala sudah pusing dan mau lihat layar saja gak kuat, lebih jelas kalau menyampaikan bahwa saat ini memang sedang tidak dalam kondisi untuk mengerjakan tugas tersebut.

Kadang batas jadi susah dibuat karena dari awal kita sendiri masih memberikan kesan kalau sebenarnya masih tersedia.

Sampaikan Apa yang Memang Masih Bisa dan Gak Bisa Dilakukan

Kondisi sakit setiap orang tentu beda-beda.

Ada yang benar-benar gak bisa melakukan apa-apa.

Ada juga yang mungkin masih sanggup menjawab satu informasi penting, tapi gak kuat kalau harus duduk meeting satu jam.

Kalau memang perlu, sampaikan batas kemampuan saat itu.

Misalnya ada informasi tertentu yang masih bisa diberikan, tapi untuk pekerjaan yang butuh konsentrasi lebih banyak memang harus menunggu kondisi membaik.

Dengan begitu orang lain juga punya gambaran yang lebih jelas.

Yang penting jangan sampai karena masih bisa melakukan satu hal kecil, lalu dianggap otomatis masih bisa mengerjakan semuanya.

Buat Batas yang Jelas

Kalau sudah izin sakit, kita juga perlu punya batas.

Karena kalau setiap chat selalu dibalas, setiap permintaan selalu dikerjakan, dan setiap meeting tetap diikuti, orang lain bisa saja terbiasa menganggap kita memang masih available.

Batasnya tentu tergantung kondisi dan aturan di tempat kerja masing-masing.

Tapi secara sederhana, kalau memang sedang gak mampu bekerja, jangan terus-terusan membuka pintu untuk pekerjaan masuk hanya karena merasa gak enak.

Kadang bilang “saya belum bisa mengerjakan itu hari ini” jauh lebih jelas daripada berkali-kali bilang “nanti saya coba”.

Simpan Komunikasi Kalau Memang Diperlukan

Kalau situasinya mulai terasa berulang atau ada komunikasi yang menurut kita penting, gak ada salahnya menyimpan catatan.

Misalnya email, chat, atau pemberitahuan izin yang sudah dikirim.

Bukan berarti harus langsung berpikir yang macam-macam.

Tapi setidaknya kita punya catatan tentang apa yang sudah disampaikan dan bagaimana respons yang diberikan.

Apalagi kalau nanti kita perlu menjelaskan kembali situasinya kepada pihak lain di dalam perusahaan.

Cari Bantuan Lewat Jalur Internal Kalau Masalahnya Terus Terjadi

Kalau sudah berulang kali menjelaskan kondisi tapi tetap selalu diminta bekerja saat sakit, mungkin masalahnya sudah bukan sekadar salah komunikasi.

Dalam kondisi seperti itu, kita bisa melihat jalur yang memang tersedia di tempat kerja.

Bisa lewat HR, atasan lain yang relevan, atau prosedur internal perusahaan kalau memang ada.

Tentunya aturan izin sakit dan prosedur seperti ini bisa berbeda-beda di setiap perusahaan, jadi tetap perlu melihat kebijakan tempat kerja masing-masing.

Yang penting, jangan merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian kalau situasinya sudah terus berulang.

Dan karena bentuk masalahnya bisa beda-beda, saya juga membahas beberapa situasi secara lebih khusus.

Kalau sudah izin tapi masih ditanya apakah bisa kerja dari rumah, bisa baca Sedang Sakit Tapi Masih Ditanya Bisa Kerja dari Rumah: Harus Bagaimana?.

Kalau masalahnya lebih ke pertanyaan yang terus datang soal masih bisa kerja atau gak, ada Lagi Sakit Tapi Masih Ditanya Bisa Kerja atau Gak.

Kalau yang terus memberikan pekerjaan adalah atasan, bisa lanjut ke Atasan Tetap Memberi Kerjaan Meski Karyawan Sedang Sakit.

Sedangkan kalau tekanan untuk tetap bekerja datang dalam berbagai bentuk yang lebih halus, pembahasannya ada di Tekanan untuk Tetap Bekerja Saat Sakit.

Pada akhirnya, sakit memang gak selalu bikin urusan kerja langsung berhenti.

Tapi bukan berarti kita harus menerima semua pekerjaan seperti hari biasa hanya karena ada laptop dan HP di dekat kita.

Kalau badan memang sedang gak mampu, ya ada saatnya kita perlu bilang dengan jelas:

hari ini memang bukan hari buat kerja.

Sakit Bukan Berarti Malas

Kadang kita terlalu gampang menyamakan berhenti kerja dengan malas.

Padahal sebenarnya ada perbedaan besar antara:

“Saya gak mau kerja.”

dan

“Saya sedang tidak mampu bekerja karena sakit.”

Dua kalimat itu kelihatannya mirip karena hasil akhirnya sama-sama gak kerja.

Tapi alasannya jelas beda.

Orang malas mungkin memang gak pengen melakukan pekerjaannya.

Sedangkan orang sakit bisa saja pengen kerja, pengen menyelesaikan tugas, pengen semuanya tetap berjalan seperti biasa, tapi badannya memang lagi gak sanggup diajak kerja sama.

Masalahnya, karena kita terlalu terbiasa hidup dengan ukuran produktivitas, kadang diri sendiri pun susah membedakan keduanya.

Begitu rebahan di jam kerja, langsung merasa bersalah.

Begitu tidur siang karena demam, rasanya seperti membuang waktu.

Begitu gak buka laptop seharian, pikiran mulai bilang:

“Kayaknya saya malas banget hari ini.”

Padahal ya mungkin bukan malas.

Mungkin memang sedang sakit.

Sesederhana itu.

Tapi anehnya kita sering lebih gampang menerima kondisi orang lain daripada kondisi diri sendiri.

Kalau teman bilang sakit, kita bisa bilang:

“Udah, istirahat aja.”

Tapi kalau giliran diri sendiri yang sakit:

“Coba kerja sedikit dulu deh.”

Kalau teman demam, kita suruh tidur.

Kalau kita demam, malah buka email.

Kadang lucu juga.

Standar buat orang lain manusiawi, standar buat diri sendiri kayak robot.

Mungkin ini terjadi karena sejak lama kita terbiasa menganggap orang yang sibuk sebagai orang yang rajin.

Yang selalu online dianggap bertanggung jawab.

Yang jarang izin dianggap berdedikasi.

Yang tetap masuk walaupun sakit dianggap kuat.

Lama-lama gambaran itu masuk ke kepala kita sendiri.

Akhirnya ketika suatu hari badan benar-benar gak kuat, kita merasa seperti gagal memenuhi standar yang selama ini kita bangun.

Padahal sakit bukan kegagalan.

Dan istirahat bukan bukti kalau kita gak punya tanggung jawab.

Justru kadang keputusan paling masuk akal adalah berhenti sebentar sebelum badan benar-benar memaksa kita berhenti lebih lama.

Karena pada akhirnya, kita memang punya pekerjaan.

Kita punya deadline.

Kita punya tanggung jawab.

Tapi kita juga punya badan yang ada batasnya.

Dan mungkin sesekali kita perlu belajar percaya bahwa ketika tubuh bilang sudah gak kuat, itu bukan sedang mencari alasan buat malas.

Kadang dia memang cuma minta istirahat.

Penutup

Kadang lucu juga kalau dipikir-pikir.

Kalau laptop mulai error, panas, atau tiba-tiba mati sendiri, kita biasanya langsung panik.

Takut tambah rusak.

Takut datanya hilang.

Takut biaya servis mahal.

Akhirnya dimatikan dulu.

Dibiarin istirahat.

Kalau perlu dibawa ke tempat servis.

Tapi giliran badan sendiri mulai bermasalah, reaksinya malah sering beda.

Kepala pusing.

Badan lemes.

Tenggorokan gak enak.

Mata sudah berat.

Tapi masih saja bilang:

“Satu kerjaan lagi deh.”

Habis satu kerjaan selesai, muncul lagi satu.

Terus satu lagi.

Tahu-tahu waktu istirahat habis dan badan malah makin gak karuan.

Padahal kerjaan mungkin masih ada besok.

Minggu depan juga masih ada.

Bulan depan kemungkinan besar tetap ada.

Bahkan ketika satu pekerjaan selesai, biasanya ya akan muncul pekerjaan berikutnya.

Namanya juga kerja.

Gak pernah benar-benar habis.

Sedangkan badan yang dipakai buat mengerjakan semua itu cuma satu.

Jadi kalau memang sedang sakit, mungkin sesekali kita perlu berhenti merasa bersalah hanya karena memilih untuk istirahat.

Gak harus selalu membuktikan kalau kita kuat.

Gak harus selalu terlihat produktif.

Dan gak harus menunggu sampai benar-benar tumbang dulu baru merasa pantas berhenti.

Karena istirahat satu hari bukan berarti kita malas.

Kadang itu cuma cara badan bilang:

“Udah dulu ya. Besok kita lanjut lagi.”

Tags

Budaya Kerja Izin Sakit Kesehatan Kerja Dunia Kerja Work-Life Balance

Artikel Terkait