Langsung ke konten utama
Karier & Tekanan

Promosi yang Tidak Kunjung Datang

30 min
Karyawan mempertimbangkan karier saat promosi jabatan tidak kunjung datang
Promosi yang tak kunjung datang perlu dilihat dari kesiapan karyawan, ketersediaan posisi, hingga kejelasan jalur karier di perusahaan.

Sudah kerja beberapa tahun, target hampir selalu tercapai, tanggung jawab bukannya berkurang malah makin banyak. Bahkan kadang kita sudah ngerjain pekerjaan yang sebenarnya lebih cocok dikerjakan orang dengan jabatan satu tingkat di atas kita.

Tapi anehnya, giliran ngomongin soal promosi jawabannya masih itu-itu saja.

“Nanti ya.”

“Tunggu waktu yang tepat.”

“Sedang dibicarakan manajemen.”

Awalnya mungkin kita masih bisa maklum. Ya namanya juga perusahaan, keputusan promosi pasti gak bisa dilakukan sembarangan. Ada prosesnya, ada pertimbangannya, dan mungkin memang harus menunggu kondisi yang tepat.

Tapi kalau jawaban seperti itu terus kita dengar selama berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun, lama-lama pasti kepikiran juga.

Sebenernya saya memang belum layak naik jabatan atau perusahaan memang gak punya rencana mempromosikan saya?

Apalagi kalau selama ini kita merasa sudah bekerja dengan cukup baik. Target tercapai, tugas tambahan diterima, kalau ada masalah ikut bantu beresin, bahkan ketika atasan gak ada kita juga yang sering diminta pegang pekerjaan sementara.

Tapi jabatan?

Masih sama.

Gaji mungkin naik sedikit setiap tahun, tapi posisi tetap gak bergerak ke mana-mana.

Nah, kondisi seperti inilah yang kadang bikin bingung. Mau protes rasanya takut dianggap terlalu menuntut, mau diam saja juga lama-lama capek sendiri.

Tapi perlu diingat juga, promosi yang gak kunjung datang bukan berarti kita otomatis dianggap karyawan yang buruk atau gagal. Ada banyak hal yang bisa memengaruhi keputusan promosi di sebuah perusahaan. Bisa memang karena ada kemampuan yang masih perlu kita tingkatkan, bisa karena posisi yang dituju belum tersedia, bisa juga karena sistem karier di perusahaan memang gak begitu jelas.

Jadi sebelum buru-buru menyimpulkan kalau perusahaan gak menghargai kita, ada baiknya kita lihat dulu sebenarnya apa yang sedang terjadi.

Karena kadang masalahnya bukan cuma soal layak atau gak layak naik jabatan.

Masalah sebenarnya justru: apakah memang ada jalan untuk naik?

Lama Kerja Ternyata Gak Otomatis Bikin Naik Jabatan

Karyawan yang sudah lama bekerja mempertimbangkan peluang naik jabatanLama bekerja memang menambah pengalaman, tetapi promosi jabatan juga dipengaruhi kinerja, kompetensi, kesiapan, dan kebutuhan perusahaan.

Salah satu pikiran yang cukup sering muncul kalau sudah lama kerja di sebuah perusahaan biasanya begini.

“Saya sudah kerja lima tahun, harusnya sudah waktunya naik jabatan.”

Dan jujur saja, pikiran seperti itu sebenarnya cukup wajar.

Apalagi kalau selama lima tahun kita merasa selalu datang kerja, ngerjain tugas dengan baik, jarang bikin masalah, dan sudah cukup paham luar dalam pekerjaan yang kita pegang. Rasanya aneh juga kalau sudah bertahun-tahun tapi posisi masih tetap di situ-situ saja.

Tapi masalahnya, masa kerja ternyata gak selalu berjalan lurus dengan promosi jabatan.

Kerja lima tahun memang berarti kita punya pengalaman lebih banyak dibanding orang yang baru masuk enam bulan. Tapi bukan berarti setelah sekian tahun otomatis muncul tulisan:

“Selamat, Anda naik jabatan.”

Kalau semudah itu mungkin enak juga. Tinggal duduk manis sambil nunggu umur kerja bertambah. 😀

Dalam praktiknya, perusahaan biasanya melihat banyak hal sebelum memutuskan seseorang layak naik ke posisi berikutnya.

Kinerja jelas menjadi salah satunya. Bukan cuma soal pernah mencapai target sekali atau dua kali, tapi seberapa konsisten hasil kerja kita selama ini.

Kemudian ada juga kemampuan memimpin. Ini biasanya mulai penting kalau posisi berikutnya mengharuskan kita mengatur orang lain. Soalnya orang yang sangat bagus mengerjakan pekerjaannya sendiri belum tentu otomatis bagus ketika harus membagi tugas, memberikan arahan, menyelesaikan konflik, atau mengambil keputusan untuk satu tim.

Selain itu perusahaan juga punya kepentingannya sendiri.

Kadang kita sudah siap, tapi memang belum ada posisi yang kosong. Kadang struktur organisasinya masih kecil sehingga perusahaan merasa belum membutuhkan supervisor atau manager tambahan. Bisa juga sebenarnya ada kebutuhan, tapi budget untuk posisi tersebut belum tersedia.

Belum lagi soal kompetensi.

Semakin tinggi jabatan, biasanya semakin berbeda juga tanggung jawabnya. Kalau sebelumnya kita lebih banyak mengerjakan pekerjaan teknis, setelah naik jabatan mungkin justru lebih banyak mengatur orang, menyusun strategi, membuat laporan, atau bertanggung jawab terhadap hasil satu tim.

Jadi yang dilihat bukan cuma:

“Sudah berapa lama dia bekerja?”

Tapi juga:

“Kalau dikasih tanggung jawab lebih besar, dia siap gak?”

Itulah kenapa ada orang yang baru beberapa tahun kerja sudah bisa naik jabatan, sementara ada juga yang sudah cukup lama tetapi masih berada di posisi yang sama.

Bukan berarti orang yang lebih lama pasti lebih buruk. Kondisi setiap orang dan kebutuhan setiap perusahaan memang bisa berbeda.

Masa kerja tetap bisa menjadi nilai tambah karena biasanya semakin lama kita bekerja semakin banyak pengalaman yang kita punya. Tapi kalau bicara soal promosi, pengalaman tersebut tetap harus dibarengi dengan performa, kemampuan, dan kebutuhan perusahaan.

Kalau ingin membahas persoalan ini lebih jauh, saya juga sudah membahasnya secara khusus di artikel Promosi Berdasarkan Masa Kerja atau Kinerja, Mana yang Lebih Masuk Akal?

Karena ternyata kalau dipikir-pikir lagi, pertanyaan “siapa yang lebih pantas naik jabatan?” memang gak sesederhana siapa yang paling lama duduk di kantor.

Sebelum Kecewa, Coba Cari Tahu Dulu Kenapa Promosinya Belum Datang

Karyawan berdiskusi dengan atasan mengenai alasan promosi jabatan belum diberikanSebelum kecewa karena belum dipromosikan, cari tahu apakah kendalanya berasal dari posisi yang belum tersedia, kompetensi, atau faktor lain.

Kalau sudah lama menunggu promosi tapi gak ada kabar, memang gampang sekali untuk mulai berpikir kalau perusahaan gak menghargai kita.

“Kurang apa lagi coba?”

Kerjaan beres, target tercapai, kalau ada tugas tambahan juga dikerjakan. Tapi kok yang namanya promosi gak muncul-muncul juga.

Tapi sebelum kesel sendiri dan mulai menganggap perusahaan sengaja mengabaikan kita, ada baiknya cari tahu dulu penyebabnya.

Karena belum mendapatkan promosi bukan selalu berarti perusahaan menganggap kita gak bagus.

Bisa jadi masalahnya memang ada di perusahaan. Tapi bisa juga ada beberapa hal dari sisi kita yang selama ini ternyata belum memenuhi apa yang mereka harapkan.

Perusahaan Memang Belum Membuka Posisi

Ini mungkin terdengar menyebalkan, tapi kadang alasannya memang sesederhana: gak ada kursi kosong untuk dinaiki.

Misalnya struktur di dalam satu divisi cuma seperti ini:

Staff → Supervisor → Manager.

Kita sekarang sudah menjadi supervisor dan mungkin secara kemampuan sudah cukup bagus untuk menjadi manager. Masalahnya, manager yang sekarang masih ada, performanya juga baik, dan perusahaan belum merasa perlu menambah posisi manager baru.

Mau dipromosikan ke mana?

Masa managernya disuruh pulang dulu supaya kita kebagian tempat. 😀

Hal seperti ini terutama bisa terjadi di perusahaan atau divisi yang struktur organisasinya relatif kecil. Jumlah posisi di atas memang lebih sedikit daripada jumlah orang yang berada di bawahnya.

Jadi ada kalanya seseorang sebenarnya sudah dinilai baik, tetapi kesempatan promosinya belum tersedia.

Tentu kondisi seperti ini tetap perlu dibicarakan. Kalau memang posisi ke atas belum tersedia, setidaknya kita bisa tahu apakah perusahaan punya alternatif pengembangan lain atau memang jalur karier kita sementara mentok di posisi tersebut.

Kinerja Bagus Belum Tentu Dianggap Siap Memimpin

Ini juga salah satu hal yang kadang bikin salah paham.

Kita merasa sudah menjadi salah satu orang dengan performa paling bagus di tim, lalu berpikir:

“Kalau bukan saya yang naik, terus siapa lagi?”

Masalahnya, semakin tinggi posisi yang dituju, biasanya pekerjaan yang dilakukan juga berubah.

Seorang staff mungkin dinilai dari seberapa bagus dia menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Tapi seorang supervisor bukan cuma harus bisa bekerja dengan bagus. Dia juga harus bisa membuat anggota timnya bekerja dengan bagus.

Nah, dua hal ini ternyata beda.

Ada orang yang secara teknis jago banget. Dikasih pekerjaan apa saja beres, jarang salah, bahkan sering menjadi tempat bertanya teman-temannya.

Tapi ketika harus membagi pekerjaan, memberikan feedback, menghadapi anggota tim yang bermasalah, atau mengambil keputusan saat kondisi gak berjalan sesuai rencana, belum tentu dia sudah siap.

Bukan berarti selamanya gak bisa.

Mungkin memang masih ada kemampuan tertentu yang perlu dikembangkan terlebih dahulu sebelum perusahaan berani memberikan tanggung jawab yang lebih besar.

Saya membahas persoalan ini lebih lengkap di artikel Kapan Sebenarnya Seorang Karyawan Dianggap Siap Naik Jabatan?

Karena ternyata menjadi karyawan yang bagus dan dianggap siap naik jabatan memang gak selalu menjadi hal yang sama.

Target Sudah Tercapai, Tapi Ada Faktor Lain yang Dinilai

Nah, ini juga sering menjadi sumber kekecewaan.

Target sudah 100 persen.

Bahkan mungkin lebih.

Tapi pas evaluasi selesai, yang naik jabatan malah bukan kita.

Wajar kalau kemudian muncul pertanyaan:

“Lah, bukannya target saya sudah tercapai?”

Masalahnya, target kerja biasanya hanya salah satu bagian dari penilaian.

Perusahaan bisa saja ikut melihat bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama dengan tim, menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, sampai seberapa konsisten performa kita dari waktu ke waktu.

Misalnya seorang karyawan punya angka penjualan paling tinggi di tim.

Secara angka memang hebat.

Tapi kalau posisi berikutnya adalah sales supervisor, perusahaan juga perlu melihat apakah orang tersebut bisa membantu anggota tim lain berkembang, memberikan arahan, menangani konflik, dan bertanggung jawab terhadap target satu tim, bukan hanya target dirinya sendiri.

Jadi bukan berarti pencapaian target kita gak dihargai.

Hanya saja, untuk posisi yang berbeda bisa ada ukuran kesiapan yang berbeda juga.

Kalau Anda sedang berada di kondisi seperti ini, pembahasannya saya lanjutkan secara khusus di Sudah Memenuhi Target tapi Tetap Gak Dipromosikan.

Perusahaan Sendiri Gak Punya Jalur Karier yang Jelas

Nah, kalau yang satu ini persoalannya agak berbeda.

Bukan kita yang gak tahu harus meningkatkan apa.

Bisa jadi perusahaan sendiri memang gak punya jawaban yang jelas.

Misalnya kita bertanya:

“Kalau mau naik menjadi supervisor, kriterianya apa?”

Jawabannya:

“Ya nanti dilihat dari performanya.”

Ditanya performa seperti apa?

“Pokoknya kalau bagus nanti dipertimbangkan.”

Kapan dipertimbangkan?

“Nanti pas waktunya.”

Lho. 😀

Kalau semuanya “nanti”, ya kita juga bingung harus mengejar apa.

Perusahaan yang mempunyai jalur karier cukup jelas biasanya setidaknya bisa menjelaskan level jabatan yang tersedia, kompetensi yang dibutuhkan untuk setiap level, bagaimana proses evaluasinya, dan hal apa yang perlu dicapai sebelum seseorang bisa dipertimbangkan ke posisi berikutnya.

Gak harus semuanya dibuat seperti rumus matematika sampai setiap tiga tahun otomatis naik pangkat.

Tapi karyawan setidaknya punya gambaran.

Masalah mulai muncul ketika orang sudah bekerja bertahun-tahun tetapi gak pernah benar-benar tahu posisi berikutnya apa, apa syarat untuk menuju ke sana, dan siapa yang menentukan apakah dirinya sudah siap atau belum.

Kalau kondisinya seperti ini, persoalannya bukan cuma soal promosi yang terlambat.

Yang menjadi masalah justru jalannya memang gak kelihatan.

Soal ini saya bahas lebih dalam di Jalur Karier yang Tidak Transparan dan Kenapa Perusahaan Gak Pernah Menjelaskan Jalur Karier Karyawan?

Karena kalau kita bahkan gak tahu jalurnya ke mana, agak susah juga untuk tahu apakah kita sedang berjalan maju atau sebenarnya cuma muter-muter di tempat yang sama.

Yang Bikin Capek Bukan Menunggunya, Tapi Gak Tahu Harus Menunggu Sampai Kapan

Karyawan bekerja hingga malam sambil menunggu kepastian promosi jabatanMenunggu promosi menjadi melelahkan ketika tidak ada target, waktu evaluasi, atau arah karier yang jelas.

Sebenernya menunggu itu gak selalu jadi masalah.

Kalau perusahaan bilang:

“Belum sekarang karena Anda masih perlu meningkatkan kemampuan memimpin tim. Kita coba evaluasi lagi tiga bulan ke depan.”

Mungkin kita tetap kecewa karena belum jadi naik jabatan, tapi setidaknya jelas.

Kita tahu kurangnya di mana.

Kita tahu apa yang harus diperbaiki.

Dan yang paling penting, kita tahu kapan hal tersebut akan dibicarakan lagi.

Jadi selama tiga bulan berikutnya kita masih punya sesuatu yang bisa dikejar.

Yang bikin capek justru kalau setiap kali ditanya jawabannya cuma:

“Nanti.”

Bulan depan ditanya lagi.

“Sebentar lagi.”

Sudah lewat beberapa bulan.

“Tunggu saja dulu.”

Nah, tunggu sampai kapan? 😀

Enam bulan?

Satu tahun?

Sampai manager yang sekarang pensiun?

Gak ada yang tahu.

Masalahnya bukan sekadar promosi belum diberikan, tapi kita dibiarkan menunggu tanpa tahu sebenarnya sedang menunggu apa.

Gak ada tanggal evaluasi berikutnya. Gak ada target tertentu yang harus dicapai. Gak jelas jabatan apa yang sedang dipersiapkan. Gak tahu kompetensi apa yang masih kurang. Bahkan kadang kita juga gak tahu apakah pembicaraan tentang promosi tersebut benar-benar sedang berjalan atau cuma menjadi jawaban supaya kita berhenti bertanya.

Kalau kondisi seperti ini berlangsung sebentar mungkin masih bisa dimaklumi.

Tapi kalau berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, lama-lama motivasi kerja juga bisa ikut turun.

Awalnya mungkin kita semangat mengambil tanggung jawab tambahan karena berpikir semua itu akan membantu perkembangan karier.

Ada proyek baru, kita ambil.

Diminta membantu tim lain, kita kerjakan.

Atasan sedang gak ada, kita yang pegang pekerjaan.

Tapi kalau setelah semuanya dilakukan arah karier tetap gak jelas, wajar kalau suatu saat muncul pikiran:

“Ngapain saya terus-terusan ambil tanggung jawab lebih kalau akhirnya tetap begini?”

Dan menurut saya, justru bagian inilah yang paling melelahkan dari promosi yang gak kunjung datang.

Bukan karena harus menunggu tiga bulan, enam bulan, atau bahkan lebih lama.

Tapi karena gak ada kepastian apakah penantian tersebut memang sedang menuju sesuatu.

Makanya kalau perusahaan memang belum bisa memberikan promosi, sebenarnya gak masalah untuk mengatakan belum.

Yang penting alasannya jelas.

Misalnya:

“Posisinya belum tersedia.”

“Performa Anda sudah bagus, tapi kemampuan A masih perlu ditingkatkan.”

“Kita akan melakukan evaluasi kembali pada akhir tahun.”

Jawaban seperti itu mungkin bukan jawaban yang kita harapkan, tapi setidaknya kita tahu kenyataannya.

Daripada terus diberikan harapan dengan kalimat “tinggal tunggu waktu” tapi waktunya sendiri gak pernah datang.

Kalau Anda sedang mengalami kondisi seperti ini, saya juga membahasnya lebih khusus di artikel Katanya Tinggal Tunggu Waktu, Tapi Promosinya Gak Datang-Datang.

Karena kadang yang kita butuhkan bukan janji kalau suatu hari nanti akan naik jabatan.

Kita cuma butuh jawaban yang jelas: apa yang sebenarnya sedang kita tunggu?

Pernah Dijanjikan Promosi? Jangan Cuma Pegang Kata-Katanya

Nah, ini juga sering bikin orang salah paham.

Kadang atasan pernah bilang:

“Kalau begini terus kayaknya Anda cocok jadi supervisor.”

Terus kita pulang dengan hati berbunga-bunga.

Wah, berarti tinggal tunggu waktu nih.

Mulai kerja makin semangat, ambil tanggung jawab tambahan, bantu sana-sini, bahkan mungkin sudah mulai membayangkan kapan jabatan di email signature berubah. 😀

Masalahnya, kalimat seperti itu belum tentu berarti keputusan promosi benar-benar sudah dibuat.

Bisa saja itu cuma bentuk apresiasi.

Bisa juga sekadar komentar spontan karena performa kita sedang bagus.

Dan bisa juga memang ada niat untuk mempromosikan kita, tapi belum pernah dibicarakan secara resmi dengan HR atau manajemen.

Nah, di sinilah pentingnya membedakan antara pembicaraan informal dan rencana promosi yang benar-benar konkret.

Kalimat seperti:

“Kayaknya Anda cocok jadi supervisor.”

masih cukup samar.

Belum jelas posisinya tersedia atau enggak, kapan prosesnya dimulai, siapa yang akan mengevaluasi, dan syarat apa saja yang harus dipenuhi.

Berbeda kalau pembicaraannya seperti ini:

“Jika target A, B, dan C tercapai sampai Desember, Januari kita evaluasi untuk posisi Supervisor.”

Nah, kalau sudah seperti ini setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita pegang.

Ada targetnya.

Ada periode waktunya.

Ada posisi yang dituju.

Ada waktu evaluasinya.

Belum tentu akhirnya pasti dipromosikan juga, karena keputusan tetap bisa dipengaruhi kondisi perusahaan. Tapi setidaknya pembicaraannya sudah jauh lebih konkret daripada sekadar:

“Tenang, nanti juga naik.”

Kalau memang pernah mendapat janji promosi, menurut saya jangan cuma mengingat kata-katanya saja.

Coba lihat apakah ada tindak lanjut yang nyata.

Apakah pernah ada pembicaraan formal?

Apakah ada target yang disepakati?

Apakah ada tanggal evaluasi?

Apakah HR atau pihak lain yang terlibat sudah mengetahui rencana tersebut?

Kalau tidak ada satu pun, sebaiknya jangan terlalu cepat menganggap promosi itu sudah pasti terjadi.

Bukan berarti harus curiga terus sama atasan.

Tapi daripada kita kecewa karena menganggap sebuah komentar sebagai janji resmi, lebih baik dari awal cari kejelasan.

Kalau memang atasan serius ingin mempersiapkan kita ke posisi berikutnya, biasanya ada langkah yang lebih jelas daripada cuma pujian.

Dan kalau Anda pernah berada di posisi sudah dijanjikan naik jabatan tapi ternyata sampai sekarang gak ada kabarnya, saya juga membahasnya lebih khusus di Janji Promosi yang Tidak Ditepati.

Karena kadang masalahnya bukan janji itu bohong atau benar.

Masalahnya kita gak pernah benar-benar tahu: itu janji, rencana, atau cuma obrolan lewat.

Hati-Hati Kalau Syarat Promosinya Terus Bergerak

Karyawan merasa tertekan menghadapi persyaratan promosi yang terus berubahPersyaratan promosi yang terus berubah setelah target sebelumnya terpenuhi dapat membuat arah perkembangan karier semakin tidak jelas.

Ada satu kondisi lagi yang menurut saya cukup bikin capek.

Bukan karena gak ada syarat promosi.

Justru syaratnya ada.

Masalahnya, syarat tersebut berubah terus setiap kali kita berhasil memenuhinya.

Awalnya bilang:

“Capai target ini dulu.”

Oke.

Kita kejar.

Target tercapai.

Pas dibahas lagi, jawabannya berubah:

“Sekarang coba buktikan dulu kalau Anda bisa handle tim.”

Ya sudah, kita jalani lagi.

Mulai bantu koordinasi, pegang pekerjaan orang lain, ikut menyelesaikan masalah tim, sampai akhirnya tanggung jawab yang diberikan makin banyak.

Setelah dianggap sudah bisa, muncul lagi syarat berikutnya:

“Untuk sekarang tunggu evaluasi berikutnya dulu ya.”

Nah, kalau begini terus lama-lama kita juga bingung.

Sebenernya garis finish-nya di mana? 😀

Perlu dipahami juga, perubahan syarat itu gak selalu berarti ada yang salah.

Kondisi bisnis bisa berubah.

Struktur organisasi bisa berubah.

Posisi yang tadinya dibutuhkan bisa saja ditunda, atau perusahaan kemudian membutuhkan kemampuan tambahan karena tanggung jawab jabatannya ikut berubah.

Hal seperti itu masih cukup masuk akal selama perusahaan menjelaskannya dengan terbuka.

Misalnya sejak awal diberi tahu bahwa ada perubahan struktur dan posisi supervisor sekarang membutuhkan kemampuan memimpin proyek yang sebelumnya belum menjadi persyaratan.

Setidaknya kita tahu kenapa standarnya berubah.

Yang mulai terasa janggal adalah kalau persyaratan selalu muncul setelah syarat sebelumnya berhasil kita penuhi.

Sudah capai target, diminta memimpin tim.

Sudah memimpin tim, diminta menunggu.

Sudah menunggu, muncul persyaratan lain lagi.

Dan begitu seterusnya.

Kalau pola seperti ini terus berulang, wajar kalau akhirnya kita mulai mempertanyakan apakah proses promosinya memang punya kriteria yang jelas atau tidak.

Karena kalau setiap kali kita hampir sampai garis finish garisnya dipindah lagi beberapa meter, ya kapan sampainya?

Dalam kondisi seperti ini, yang perlu dicari sebenarnya bukan sekadar syarat berikutnya.

Yang lebih penting adalah memastikan:

Apa sebenarnya seluruh kriteria untuk posisi tersebut?

Bukan satu per satu diberikan setelah kita menyelesaikan yang sebelumnya.

Kalau memungkinkan, minta penjelasan sejak awal mengenai kompetensi yang dibutuhkan, target yang harus dicapai, siapa yang akan mengevaluasi, dan kapan proses tersebut akan ditinjau kembali.

Dengan begitu kita punya gambaran apakah memang masih ada hal yang perlu diperbaiki atau sebenarnya proses promosinya sendiri yang gak pernah jelas.

Saya membahas kondisi seperti ini lebih khusus di Syarat Promosi yang Tiba-Tiba Berubah.

Karena meningkatkan kemampuan demi mengejar jabatan itu masih masuk akal.

Tapi kalau syaratnya terus berubah setiap kali berhasil dipenuhi, mungkin yang perlu dievaluasi bukan cuma kemampuan kita, tapi juga kejelasan proses promosinya.

Jangan Sampai Sudah Kerja di Level Atas, Tapi Jabatan dan Kompensasinya Tetap Segitu-Gitu Aja

Karyawan memimpin presentasi tim meski jabatan formalnya belum berubahcaption imageKetika tanggung jawab sudah setara posisi yang lebih tinggi, penting untuk mengetahui apakah jabatan dan kompensasi juga akan disesuaikan.

Kadang promosi memang belum datang, tapi pekerjaannya sudah datang duluan. 😀

Jabatan masih staff.

Tapi sehari-hari sudah mulai diminta memimpin tim.

Ada karyawan baru, kita yang ngajarin.

Ada masalah penting, kita yang diminta ambil keputusan.

Ada proyek besar, kita yang pegang.

Atasan sedang cuti atau gak masuk, kita juga yang diminta menggantikan sebagian tugasnya.

Kalau cuma sesekali sebenarnya gak ada masalah.

Malah menurut saya, diberi tanggung jawab tambahan bisa menjadi kesempatan bagus untuk belajar dan membuktikan kalau kita memang siap naik ke level berikutnya.

Kita jadi punya pengalaman yang sebelumnya belum pernah dikerjakan.

Masalahnya mulai terasa kalau kata “sementara” ternyata berubah menjadi rutinitas.

Awalnya cuma:

“Tolong handle tim dulu selama saya gak ada.”

Lama-lama kita memang terus yang handle.

Awalnya:

“Coba bantu training anak baru ya.”

Besok ada orang baru lagi, kita juga yang ngajarin.

Ada proyek penting, masuk ke kita lagi.

Ada keputusan yang harus dibuat, kita ikut diminta bertanggung jawab.

Tapi ketika melihat jabatan di kontrak kerja atau struktur organisasi, ternyata masih sama seperti dua tahun yang lalu.

Nah, kalau sudah seperti ini wajar kalau kita mulai bertanya.

Kalau tanggung jawabnya sudah naik, kenapa statusnya gak ikut naik?

Apalagi kalau tanggung jawab tambahan tersebut sebenarnya sudah menjadi bagian tetap dari pekerjaan sehari-hari, bukan lagi sekadar latihan atau bantuan sementara.

Karena ada perbedaan antara sedang dipersiapkan untuk naik jabatan dengan terus menerus menjalankan pekerjaan level atas tanpa kejelasan.

Kalau memang perusahaan sedang mempersiapkan kita, seharusnya ada arah yang bisa dibicarakan.

Misalnya setelah enam bulan memimpin proyek tertentu akan dilakukan evaluasi, atau ada beberapa kemampuan yang memang sedang diuji sebelum kita dipertimbangkan untuk posisi berikutnya.

Tapi kalau tahun demi tahun pekerjaan bertambah sementara jabatan dan kompensasi tetap segitu-gitu aja, ya pantas kalau kita mulai mempertanyakannya.

Bukan berarti setiap kali mendapat tugas tambahan kita langsung harus minta kenaikan jabatan.

Nanti baru disuruh bikin satu laporan tambahan sudah datang ke HR bawa surat promosi. 😀

Tapi kalau tanggung jawab level berikutnya sudah menjadi pekerjaan rutin, hal tersebut memang layak dibicarakan secara serius dengan atasan.

Coba tanyakan bagaimana perusahaan melihat peran kita sekarang.

Apakah tanggung jawab tambahan tersebut memang bagian dari proses pengembangan?

Apakah ada rencana untuk menyesuaikan jabatan?

Kalau iya, kapan evaluasinya?

Dan apakah nantinya kompensasi juga akan mengikuti perubahan tanggung jawab tersebut?

Karena pada akhirnya jabatan bukan cuma soal nama keren di kartu nama.

Semakin tinggi tanggung jawab, biasanya semakin besar juga beban keputusan, target, dan risiko yang kita tanggung.

Kalau perusahaan memang sudah mempercayakan pekerjaan di level yang lebih tinggi kepada kita, wajar juga kalau suatu saat kita ingin tahu apakah pengakuan secara formalnya akan ikut menyusul.

Jangan sampai kita sudah jadi “atasan” kalau ada pekerjaan, tapi kembali jadi “staff biasa” begitu ngomongin jabatan dan kompensasi.

Bagaimana Kalau Posisi Atasan Kosong Tapi Tetap Gak Dipromosikan?

Nah, kalau yang satu ini mungkin rasanya lebih bikin penasaran.

Atasan resign.

Posisinya kosong.

Kita sudah cukup lama bekerja di tim tersebut, tahu pekerjaannya, bahkan mungkin selama posisi itu kosong kita ikut mengambil sebagian tanggung jawabnya.

Dalam hati mulai mikir:

“Wah, ini mungkin kesempatan saya naik.”

Tapi beberapa minggu kemudian perusahaan malah membuka lowongan dari luar.

Atau tiba-tiba ada orang dari divisi lain yang dipindahkan ke posisi tersebut.

Lho, terus kita gimana? 😀

Posisi atasan yang kosong memang bisa membuka peluang promosi, tapi ternyata gak otomatis berarti karyawan yang berada tepat di bawahnya akan langsung dinaikkan.

Perusahaan bisa saja memilih merekrut kandidat dari luar karena membutuhkan pengalaman atau kemampuan tertentu yang belum tersedia di dalam tim.

Ada juga perusahaan yang memilih memindahkan karyawan dari divisi lain.

Bahkan dalam kondisi tertentu, posisi tersebut bisa saja digabung dengan jabatan lain atau dibiarkan kosong sementara karena perusahaan sedang mengubah struktur organisasi.

Jadi kalau posisi atasan kosong tetapi kita tetap gak dipromosikan, jangan buru-buru menyimpulkan kalau perusahaan sengaja melewatkan kita.

Yang lebih penting justru mencari tahu bagaimana perusahaan melihat kesiapan kita untuk posisi tersebut.

Kalau memang belum dianggap siap, kurangnya di mana?

Kalau sebenarnya sudah dianggap mampu, kenapa perusahaan memilih kandidat lain?

Jawaban dari pertanyaan seperti itu jauh lebih berguna daripada cuma menebak-nebak sendiri.

Saya membahas kondisi ini lebih lengkap di Posisi Atasan Kosong tapi Kenapa Gak Ada Karyawan Internal yang Dipromosikan?

Karena ternyata kursinya kosong belum tentu berarti kita otomatis orang berikutnya yang akan duduk di sana.

Bisa Gak Sih Atasan Sengaja Menahan Promosi Kita?

Pertanyaan seperti ini biasanya mulai muncul kalau kita merasa sudah melakukan semuanya dengan benar.

Performa bagus.

Tanggung jawab bertambah.

Feedback juga positif.

Tapi setiap kali ngomongin promosi, ujung-ujungnya gak pernah ke mana-mana.

Akhirnya mulai kepikiran:

“Jangan-jangan atasan saya memang sengaja nahan saya di posisi ini?”

Kemungkinan seperti itu memang bisa saja ada.

Misalnya seorang manager punya anggota tim yang sangat bisa diandalkan. Kerjaannya beres, bisa bantu banyak hal, dan sering menjadi orang pertama yang dicari kalau ada masalah.

Kalau orang tersebut pindah posisi, si manager tentu harus mencari pengganti dan mungkin kehilangan salah satu orang terbaik di timnya.

Tapi jangan langsung menyimpulkan kalau itu pasti penyebabnya.

Karena keputusan promosi biasanya gak cuma ada di tangan satu orang.

Ada perusahaan yang melibatkan HR, kepala divisi, manajemen, struktur organisasi, budget, sampai ketersediaan posisi sebelum akhirnya seseorang benar-benar bisa dipromosikan.

Jadi meskipun atasan mendukung sekalipun, promosi belum tentu langsung terjadi.

Begitu juga sebaliknya.

Kalau promosi kita belum datang, belum tentu berarti atasan sengaja menghalangi.

Meski begitu, ada beberapa pola yang memang layak diperhatikan.

Misalnya kita terus diberikan tanggung jawab yang lebih besar, tapi nama kita gak pernah diajukan atau dibicarakan untuk posisi berikutnya.

Atau setiap evaluasi selalu mendapat feedback positif:

“Kerjaan kamu bagus.”

“Performa kamu oke.”

“Saya puas dengan hasilnya.”

Tapi gak pernah ada pembicaraan lanjutan tentang langkah berikutnya.

Lebih bikin curiga lagi kalau setiap kali kita mencoba membahas karier, topiknya selalu dialihkan.

“Nanti aja kita ngomonginnya.”

“Sekarang fokus kerja dulu.”

“Belum waktunya bahas itu.”

Sekali dua kali mungkin memang sedang gak tepat waktunya.

Tapi kalau bertahun-tahun jawabannya begitu terus, ya wajar kalau kita mulai bertanya-tanya.

Hal lain yang bisa diperhatikan adalah kesempatan internal.

Misalnya ada program leadership, lowongan internal, proyek strategis, atau kesempatan menjadi acting supervisor, tapi kita gak pernah diberi kesempatan ikut meskipun performa selama ini cukup bagus.

Sekali lagi, semua tanda tadi bukan bukti otomatis kalau atasan sedang sengaja menahan promosi.

Bisa saja memang ada alasan lain yang belum kita tahu.

Makanya daripada sibuk menebak isi kepala atasan, lebih baik cari jawaban yang bisa diverifikasi.

Tanyakan secara langsung:

“Apa yang masih kurang dari saya untuk dipertimbangkan ke posisi berikutnya?”

Atau:

“Kalau ada posisi supervisor terbuka, apakah saya termasuk kandidat yang akan dipertimbangkan?”

Jawaban dari pertanyaan seperti itu biasanya jauh lebih berguna daripada terus mikir:

“Bos saya takut kehilangan saya kali ya.”

Kalau Anda ingin membahas kemungkinan ini lebih dalam, saya juga sudah membahasnya khusus di Apakah Atasan Bisa Sengaja Menahan Promosi Bawahannya?

Karena bisa saja memang ada faktor dari atasan.

Tapi bisa juga masalahnya ternyata datang dari sistem perusahaan yang lebih besar.

Perusahaan Bilang Peduli Karier Karyawan, Tapi Kok Gak Ada yang Naik Jabatan?

Ada juga perusahaan yang sebenarnya cukup rajin ngomongin pengembangan karier.

Ada training.

Ada coaching.

Ada leadership development.

Ada career development program.

Kelihatannya bagus.

Dan memang bagus.

Masalahnya, ikut program pengembangan ternyata belum tentu berarti kita akan benar-benar mendapatkan kesempatan promosi.

Ini yang kadang bikin salah paham.

Kita ikut training kepemimpinan, lalu mulai berpikir:

“Wah, jangan-jangan saya sedang dipersiapkan jadi supervisor.”

Padahal belum tentu.

Bisa saja perusahaan memang ingin meningkatkan kemampuan karyawannya secara umum, tanpa ada posisi baru yang sedang dibuka.

Jadi antara pengembangan karyawan dan promosi jabatan sebenarnya saling berhubungan, tapi bukan berarti keduanya selalu berjalan berbarengan.

Training bisa membuat kita lebih siap.

Coaching bisa membantu memperbaiki kelemahan.

Leadership program bisa menambah kemampuan memimpin.

Tapi kalau struktur organisasinya gak berubah, posisi di atas masih penuh, atau perusahaan memang jarang melakukan promosi internal, ya setelah semua program itu selesai jabatan kita bisa saja tetap sama.

Nah, yang mulai bikin bingung adalah kalau perusahaan terus menerus bicara soal career growth, tapi dalam praktiknya hampir gak pernah ada contoh nyata orang yang benar-benar berkembang ke posisi berikutnya.

Setiap tahun ada training.

Setiap tahun ada seminar.

Setiap tahun ada kalimat:

“Kami mendukung perkembangan karier seluruh karyawan.”

Tapi ketika ditanya siapa yang naik jabatan?

Sepi. 😀

Kalau kondisi seperti ini terjadi, ada baiknya kita mulai melihat bukan cuma program yang ditawarkan, tapi juga hasil nyatanya.

Apakah perusahaan punya jalur promosi internal?

Apakah ada karyawan yang benar-benar pernah naik dari staff menjadi supervisor, lalu manager?

Apakah program pengembangan tersebut terhubung dengan posisi tertentu?

Atau semuanya memang hanya sebatas meningkatkan kemampuan di posisi sekarang?

Bukan berarti training menjadi gak berguna kalau gak langsung berujung promosi.

Ilmu dan kemampuan yang kita dapat tetap bisa bermanfaat untuk pekerjaan sekarang maupun karier kita ke depan.

Tapi kita juga perlu realistis.

Jangan sampai kita menganggap setiap program pengembangan sebagai tanda bahwa promosi sudah dekat, padahal perusahaan sendiri gak pernah mengatakan seperti itu.

Kalau Anda melihat kondisi seperti ini di tempat kerja, saya juga membahasnya lebih khusus di Perusahaan Rajin Bicara Pengembangan Karier tapi Gak Ada yang Benar-Benar Naik Jabatan.

Karena perusahaan bisa saja serius mengembangkan kemampuan karyawannya.

Tapi itu belum tentu berarti perusahaan juga punya cukup ruang untuk menaikkan jabatan mereka.

Jadi, Sampai Kapan Sebaiknya Menunggu Promosi?

Karyawan mempertimbangkan berapa lama harus menunggu promosi jabatanLama menunggu bukan satu-satunya ukuran; yang lebih penting adalah adanya kriteria, feedback, evaluasi, dan peluang promosi yang jelas.

Nah, setelah ngomong panjang lebar soal promosi yang gak datang-datang, mungkin pertanyaan paling pentingnya adalah:

Sebenernya sampai kapan kita harus menunggu?

Tiga bulan?

Enam bulan?

Satu tahun?

Menurut saya gak ada angka yang benar-benar bisa dipakai untuk semua orang.

Karena kondisi setiap perusahaan berbeda.

Ada perusahaan yang proses promosinya memang cepat. Ada juga yang harus menunggu evaluasi tahunan, perubahan struktur, pembukaan posisi baru, atau persetujuan dari beberapa level manajemen.

Jadi masalahnya bukan sekadar sudah menunggu berapa lama.

Yang lebih penting adalah: selama menunggu itu ada perkembangan atau enggak?

Kalau perusahaan sudah menjelaskan apa yang harus kita capai, misalnya perlu meningkatkan kemampuan tertentu, kemudian ada evaluasi yang jelas dan kita bisa melihat progresnya, menurut saya menunggu masih cukup masuk akal.

Setidaknya kita tahu sedang berjalan ke arah mana.

Misalnya atasan bilang:

“Untuk posisi supervisor, kemampuan teknis Anda sudah cukup. Sekarang kami ingin melihat bagaimana Anda memimpin proyek dan mengatur tim. Nanti kita review lagi di evaluasi berikutnya.”

Belum naik memang.

Tapi ada arah yang jelas.

Kita tahu kriterianya.

Kita mendapatkan feedback.

Kita tahu apa yang sedang dinilai.

Dan yang gak kalah penting, memang ada peluang posisi yang realistis untuk dituju.

Kalau seperti itu, menunggu bukan cuma duduk diam sambil berharap suatu hari nama kita tiba-tiba muncul di surat keputusan promosi.

Ada proses yang sedang berjalan.

Sebaliknya, kita mungkin perlu mulai mengevaluasi situasinya kalau yang terjadi justru kebalikannya.

Tahun lalu dijanjikan promosi.

Tahun ini dijanjikan lagi.

Tapi gak pernah ada realisasinya.

Sudah memenuhi satu syarat, muncul syarat baru.

Ditanya apa yang masih kurang, gak pernah mendapatkan jawaban yang konkret.

Tanggung jawab sudah seperti posisi di atas, tapi jabatan masih sama.

Ditanya soal jalur karier, jawabannya juga gak jelas.

Yang paling bikin capek, setiap kali mencoba membahas karier malah seperti dihindari.

“Nanti saja.”

“Belum waktunya.”

“Fokus kerja dulu.”

Kalau pola seperti itu terus berulang, mungkin pertanyaannya sudah bukan lagi:

“Berapa lama lagi saya harus sabar?”

Tapi:

“Apakah memang ada sesuatu yang sedang saya tunggu?”

Karena sabar itu satu hal.

Menunggu sesuatu yang gak jelas ada atau enggak itu hal lain.

Bukan berarti sekali gagal promosi kita harus langsung buka laptop malam itu juga dan kirim CV ke semua perusahaan. 😀

Tapi kita juga gak perlu terus menunggu hanya karena merasa sudah terlanjur lama bekerja di sana.

Coba lihat kondisinya secara lebih sederhana.

Kalau ada kriteria yang jelas, feedback yang jelas, perkembangan yang bisa dilihat, waktu evaluasi yang diketahui, dan peluang posisi yang memang realistis, mungkin masih ada alasan untuk bertahan dan melihat prosesnya.

Tapi kalau yang ada hanya janji berulang, persyaratan yang terus berubah, tanggung jawab semakin besar tanpa pengakuan, dan pembicaraan soal karier selalu berakhir tanpa jawaban, ya mungkin sudah waktunya kita melihat situasinya dengan lebih serius.

Karena promosi memang gak harus datang secepat yang kita mau.

Tapi setidaknya kita perlu tahu apakah jalan menuju ke sana benar-benar ada.

Jangan sampai bertahun-tahun menunggu di depan pintu sambil berharap suatu saat dibukakan.

Padahal ternyata dari awal pintunya memang gak pernah dibuat.

Bertahan, Pindah Divisi, atau Cari Perusahaan Lain?

Kalau setelah sekian lama promosi tetap gak datang, biasanya pilihan kita mulai mengerucut ke tiga hal.

Bertahan.

Pindah ke divisi lain.

Atau mulai melihat peluang di perusahaan lain.

Dan menurut saya, gak ada satu jawaban yang otomatis paling benar untuk semua orang.

Karena kadang masalahnya bukan kita gak bisa berkembang di perusahaan tersebut.

Bisa saja kita cuma berada di tempat yang ruang naiknya memang sudah mentok.

Misalnya di tim sekarang hanya ada satu supervisor dan satu manager. Dua-duanya masih aktif, performanya bagus, dan perusahaan juga gak punya rencana menambah posisi baru.

Kalau kondisinya seperti itu, menunggu orang resign dulu rasanya juga agak aneh. 😀

Jadi promosi gak selalu harus berarti naik satu tingkat di tim yang sama.

Tetap Bertahan Kalau Jalannya Masih Kelihatan

Bertahan masih masuk akal kalau perusahaan sebenarnya memberikan arah yang cukup jelas.

Kita tahu posisi yang bisa dituju.

Tahu kemampuan apa yang perlu ditingkatkan.

Mendapat feedback yang berguna.

Dan memang ada kesempatan yang realistis untuk berkembang.

Mungkin promosinya belum datang sekarang, tapi setidaknya ada tanda kalau kita sedang bergerak ke arah sana.

Kalau selama menunggu kita juga masih mendapatkan pengalaman baru, tanggung jawab yang berguna, peningkatan kemampuan, dan komunikasi yang terbuka dari atasan, ya gak ada salahnya memberikan waktu.

Yang penting kita bertahan karena melihat peluang.

Bukan cuma karena sudah terlanjur lama kerja.

Pindah Tim atau Divisi Bisa Jadi Jalan Lain

Kadang karier mentok bukan karena perusahaan gak menghargai kita.

Divisinya saja yang sudah terlalu penuh.

Misalnya peluang menjadi manager di tim sekarang hampir gak ada, tapi ternyata ada divisi lain yang sedang berkembang dan membutuhkan orang dengan pengalaman yang kita punya.

Kalau ada kesempatan seperti itu, pindah secara internal bisa menjadi pilihan yang cukup masuk akal.

Kita tetap berada di perusahaan yang sama, masih mengenal budaya kerjanya, tapi mendapatkan ruang yang lebih besar untuk berkembang.

Bahkan kadang perpindahan seperti ini justru membuka pengalaman baru yang nantinya membuat kita lebih siap untuk posisi yang lebih tinggi.

Jadi jangan terlalu terpaku dengan pikiran:

“Kalau mau naik jabatan, saya harus naik di tim ini.”

Belum tentu.

Kadang jalannya memang harus sedikit belok dulu.

Kalau Memang Gak Ada Jalan, Gak Salah Mulai Melihat ke Luar

Nah, bagaimana kalau sudah mencoba semuanya?

Sudah ngobrol dengan atasan.

Sudah meminta feedback.

Sudah mencapai target yang diminta.

Sudah mengambil tanggung jawab tambahan.

Sudah bertanya soal jalur karier.

Tapi tetap gak ada kejelasan.

Dalam kondisi seperti itu, gak ada salahnya mulai melihat peluang di tempat lain.

Bukan berarti besok langsung datang ke kantor sambil membawa surat resign. 😀

Melihat peluang itu beda dengan langsung pergi.

Kita bisa mulai mencari tahu seperti apa posisi yang tersedia di luar, kemampuan apa yang dihargai pasar, berapa level pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman kita sekarang, dan apakah ada perusahaan lain yang menawarkan jalur karier lebih jelas.

Setidaknya kita jadi tahu bahwa pilihan kita gak cuma satu.

Kadang kita terlalu lama menunggu promosi karena merasa semua pengalaman yang sudah dikumpulkan hanya berguna di perusahaan sekarang.

Padahal bisa jadi pengalaman lima tahun yang dianggap “belum cukup” di satu tempat justru sudah sesuai untuk posisi yang lebih tinggi di tempat lain.

Tentu jangan juga langsung menyerah hanya karena sekali gagal dipromosikan.

Gagal satu kali bisa saja memang karena ada kandidat yang lebih sesuai, kondisi bisnis berubah, atau posisi tersebut akhirnya gak jadi dibuka.

Yang perlu diperhatikan adalah polanya.

Kalau sekali gagal, masih wajar.

Kalau setiap tahun ceritanya selalu sama, baru layak dipikirkan lebih serius.

Karena kalimat:

“Mungkin tahun depan.”

bisa terdengar cukup meyakinkan kalau diucapkan sekali.

Tapi kalau sudah diulang tiga atau empat tahun berturut-turut, ya “tahun depan”-nya lama-lama seperti gak punya tanggal. 😀

Pada akhirnya kita memang gak bisa memaksa perusahaan memberikan jabatan tertentu.

Tapi kita masih bisa menentukan apakah tempat tersebut masih memberikan ruang yang cukup untuk perkembangan karier kita.

Kalau iya, bertahan mungkin masih masuk akal.

Kalau jalur di tim sekarang mentok, coba lihat peluang di bagian lain.

Dan kalau seluruh pintunya terasa tertutup meskipun sudah berkali-kali mencoba, mungkin sudah waktunya melihat apakah ada pintu lain di luar sana yang lebih terbuka.

Karena bertahan itu pilihan.

Menunggu juga pilihan.

Tapi jangan sampai kita terus memilih menunggu hanya karena takut memulai dari tempat lain.

Penutup

Promosi yang gak kunjung datang memang bikin bingung.

Mau marah rasanya belum tentu perusahaan salah.

Mau sabar terus juga lama-lama capek sendiri.

Apalagi kalau kita merasa sudah berusaha cukup banyak. Kerjaan beres, target tercapai, tanggung jawab bertambah, tapi posisi masih tetap di tempat yang sama.

Kadang akhirnya kita terlalu fokus pada satu pertanyaan:

“Kapan saya naik jabatan?”

Padahal mungkin yang lebih penting justru bukan soal cepat atau lambatnya.

Yang perlu kita tahu adalah posisi kita sekarang sebenarnya ada di mana.

Apa yang masih kurang?

Apa yang memang sudah bagus?

Apa yang harus diperbaiki?

Dan yang paling penting, apakah memang ada jalan untuk berkembang di perusahaan tersebut?

Kalau jawabannya jelas, setidaknya kita punya sesuatu untuk dikejar.

Kalau belum siap, ya kita tahu apa yang harus diperbaiki.

Kalau posisi belum tersedia, kita tahu situasinya.

Kalau ada evaluasi berikutnya, kita tahu kapan waktunya.

Tapi kalau semuanya sudah kita tanyakan, semua usaha sudah dilakukan, dan jawabannya masih selalu:

“Tunggu saja dulu.”

ya mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:

“Kapan saya dipromosikan?”

Dan mulai bertanya:

“Apakah saya masih perlu menunggu di sini?”

Karena menunggu itu gak masalah kalau kita tahu sedang menunggu sesuatu.

Yang bahaya justru kalau bertahun-tahun kita berdiri di tempat yang sama, berharap pintunya terbuka, padahal gak pernah ada yang benar-benar bilang kalau pintu itu memang akan dibuka.

Tags

Promosi Jabatan Karier Karyawan Pengembangan Karier Dunia Kerja Kenaikan Jabatan Masalah Karier

Artikel Terkait