Entah sejak kapan karyawan yang loyal sering dianggap sebagai karyawan yang selalu nurut dan gampang diajak kerja sama. Disuruh ini bilang iya, diminta itu bilang iya, dikasih pekerjaan tambahan juga iya. Bahkan ketika sebenarnya kurang setuju dengan keputusan atasan, kadang lebih memilih diam daripada dianggap banyak protes.
Memang sih, sebagai karyawan kita tetap punya tanggung jawab terhadap pekerjaan dan perusahaan. Gak mungkin juga setiap dikasih tugas jawabannya selalu “gak mau” atau malah sibuk debat terus-terusan. Kalau kayak gitu bukan loyal lagi namanya, tapi memang bikin kerjaan orang lain tambah ribet.
Tapi masalahnya, loyalitas juga bukan berarti semua hal harus selalu dijawab dengan kata “iya”.
Kalau ada keputusan yang menurut kita kurang tepat, masa iya harus tetap diam? Kalau ada target yang rasanya gak masuk akal, apakah harus tetap bilang sanggup hanya supaya terlihat sebagai karyawan yang berdedikasi? Atau ketika melihat sesuatu yang berpotensi bikin masalah, kita malah memilih tutup mulut karena takut dianggap gak mendukung perusahaan?
Nah, menurut saya di sinilah loyalitas sering sedikit salah dipahami.
Loyal kepada perusahaan bukan berarti kita harus kehilangan hak untuk berpikir, bertanya, memberikan pendapat, atau bahkan mengatakan “tidak” ketika memang ada alasan yang masuk akal. Karena kalau semua orang di kantor cuma bisa mengangguk dan berkata iya, mungkin yang terbentuk bukan loyalitas, tapi rasa takut untuk dianggap gak loyal.
Sejak Kapan Loyal Berarti Harus Selalu Menurut?
Loyalitas berbeda dengan kepatuhan buta. Karyawan tetap dapat bertanya dan memberikan pandangan ketika ada hal yang perlu didiskusikan.
Entah kenapa di sebagian tempat kerja masih ada anggapan kalau karyawan yang baik itu adalah karyawan yang nurut. Dikasih arahan langsung jalan, diminta sesuatu langsung dikerjakan, dan yang paling penting jangan terlalu banyak bertanya.
Sebaliknya, karyawan yang sedikit lebih kritis kadang malah dianggap ribet.
Baru nanya kenapa cara kerjanya harus seperti ini, dibilang banyak komentar. Kasih pendapat yang berbeda, dianggap susah diajak kerja sama. Apalagi kalau sampai berani bilang kalau keputusan tertentu mungkin kurang tepat, wah bisa-bisa langsung dicap gak mendukung perusahaan.
Padahal menurut saya bertanya itu belum tentu berarti melawan.
Berbeda pendapat dengan atasan juga gak otomatis berarti kita gak menghargai keputusan mereka. Bisa saja kita bertanya karena memang ingin memahami alasannya, atau mungkin kita melihat sesuatu dari sisi yang berbeda karena sehari-hari berhadapan langsung dengan pekerjaan tersebut.
Atasan tentu punya pertimbangan sendiri, tapi bukan berarti setiap keputusan pasti selalu sempurna. Begitu juga dengan karyawan. Kita juga belum tentu selalu benar.
Makanya menurut saya yang dibutuhkan bukan orang-orang yang selalu bilang iya, tapi orang-orang yang masih mau berdiskusi ketika memang ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
Di sinilah menurut saya loyalitas perlu dibedakan dengan kepatuhan buta.
Kalau loyalitas, kita tetap peduli terhadap pekerjaan dan kepentingan perusahaan. Kita menjalankan tanggung jawab dengan baik, membantu ketika memang dibutuhkan, dan sebisa mungkin memberikan yang terbaik dari pekerjaan yang kita pegang.
Tapi kalau kepatuhan buta, ceritanya sudah berbeda.
Apa pun keputusan perusahaan dianggap harus benar. Apa pun permintaan atasan harus dilakukan. Mau setuju atau gak setuju, masuk akal atau gak, pokoknya iya dulu. Bahkan ketika tahu ada sesuatu yang salah pun memilih diam karena takut dianggap gak loyal.
Kalau sudah seperti itu, menurut saya yang muncul bukan lagi loyalitas.
Karena karyawan yang benar-benar peduli dengan tempatnya bekerja seharusnya masih punya keberanian untuk mengatakan sesuatu ketika memang ada yang perlu diperbaiki. Bukan sekadar menjadi orang yang paling rajin menganggukkan kepala.
Selalu Bilang “Iya” Justru Belum Tentu Baik untuk Perusahaan
caption imageMenyampaikan data, risiko, dan kondisi di lapangan dapat membantu perusahaan melihat masalah sebelum keputusan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Yang namanya manusia pasti bisa salah, termasuk atasan ataupun orang-orang yang mengambil keputusan di perusahaan. Meskipun mereka punya pengalaman lebih banyak atau posisi yang lebih tinggi, bukan berarti setiap keputusan yang dibuat selalu tepat.
Masalahnya, kadang sebuah keputusan yang kurang tepat tetap dijalankan hanya karena gak ada yang berani ngomong.
Semua orang tahu ada yang aneh, semua orang sebenarnya merasa ada yang salah, tapi karena takut dianggap membantah akhirnya cuma bisa bilang, “iya, Pak”, “siap, Bu”, lalu pekerjaan tetap jalan seperti biasa.
Padahal kalau dipikir-pikir, kondisi seperti ini justru bisa bikin masalah kecil berubah menjadi masalah yang lebih besar.
Contohnya deadline yang dari awal sebenarnya sudah gak realistis. Tim yang mengerjakan mungkin sudah tahu kalau waktunya terlalu mepet, tapi karena semuanya bilang sanggup akhirnya pekerjaan dipaksakan. Ujung-ujungnya kualitas turun, banyak revisi, atau malah telat juga.
Begitu juga dengan target.
Manajemen mungkin melihat angka dan merasa target tertentu masih memungkinkan untuk dicapai. Tapi karyawan yang setiap hari berhadapan langsung dengan pelanggan atau proses produksi bisa saja melihat kenyataan yang berbeda. Kapasitas tim sudah penuh, kondisi pasar lagi berubah, atau memang ada hambatan yang gak kelihatan dari atas.
Kalau orang-orang yang tahu kondisi lapangan memilih diam, ya perusahaan akhirnya mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi yang mereka punya.
Hal yang sama juga bisa terjadi pada proses kerja.
Ada prosedur yang tujuannya mungkin bagus, tapi ketika dijalankan malah bikin pekerjaan semakin panjang dan ribet. Ada juga keputusan yang kelihatannya menguntungkan dalam jangka pendek, tapi ternyata berpotensi bikin pelanggan kecewa atau malah merugikan perusahaan di kemudian hari.
Dalam kondisi seperti itu, menurut saya orang yang berani bilang, “Kayaknya ada masalah di sini,” belum tentu sedang melawan perusahaan.
Bisa jadi justru dia yang paling peduli.
Karena jauh lebih gampang sebenarnya untuk sekadar mengangguk, mengerjakan apa yang diperintahkan, lalu kalau nanti bermasalah tinggal bilang, “Saya cuma menjalankan perintah.”
Tapi orang yang mau menyampaikan risiko sejak awal berarti masih memikirkan apa yang bakal terjadi setelah keputusan itu dijalankan.
Jadi jangan heran kalau kadang orang yang paling sering bilang “iya” belum tentu orang yang paling peduli dengan perusahaan. Sebaliknya, orang yang sesekali berani mempertanyakan sesuatu justru mungkin sedang berusaha mencegah perusahaan membuat kesalahan yang sebenarnya masih bisa dihindari.
Karyawan Loyal Tetap Bisa Bilang “Tidak”
Mengatakan “tidak” dengan alasan yang jelas, menjelaskan risiko, dan menawarkan alternatif tidak selalu berarti tidak loyal.
Kata “tidak” memang kadang terdengar negatif di tempat kerja. Apalagi kalau yang meminta adalah atasan. Rasanya seperti kita sedang menolak tanggung jawab atau gak mau membantu perusahaan.
Padahal menurut saya gak semua penolakan bisa disamaratakan seperti itu.
Kalau setiap permintaan selalu ditolak hanya karena malas, ya jelas beda ceritanya. Baru dikasih pekerjaan sedikit sudah bilang gak bisa, diminta bantu sesuatu langsung cari alasan, atau memang dari awal gak punya niat untuk ikut menyelesaikan masalah.
Tapi ada juga kondisi ketika mengatakan “tidak” justru punya alasan yang masuk akal.
Misalnya kita melihat ada risiko yang cukup besar kalau sebuah keputusan tetap dijalankan. Daripada iya-iya saja lalu masalahnya muncul belakangan, bukankah lebih baik disampaikan sejak awal?
Atau kapasitas pekerjaan memang sudah benar-benar penuh.
Kalau masih dipaksakan menerima pekerjaan baru hanya karena gak enak menolak, hasilnya belum tentu bagus juga. Pekerjaan lama bisa terbengkalai, pekerjaan baru gak maksimal, kita sendiri akhirnya kelabakan ke sana kemari. Mau terlihat bisa mengerjakan semuanya, eh malah gak ada yang selesai dengan benar.
Kadang sebuah penolakan juga bukan berarti kita menolak sepenuhnya.
Bisa saja maksudnya, “cara ini mungkin perlu dipikirkan lagi”, “waktunya terlalu mepet”, atau “ada pilihan lain yang menurut saya lebih aman.”
Nah, menurut saya hal seperti ini yang sering luput.
Orang terlalu fokus pada kata “tidak”, tapi lupa melihat alasan di belakangnya.
Padahal yang membedakan penolakan yang masuk akal dengan penolakan asal-asalan bukan cuma kata yang digunakan, tapi kenapa kita menolak dan bagaimana cara kita menyampaikannya.
Tentu saja bukan berarti kita bebas bilang “gak mau” dengan nada seenaknya. Tetap ada cara untuk menyampaikan keberatan dengan baik. Jelaskan alasannya, sampaikan risikonya, dan kalau memungkinkan kasih alternatif supaya masalahnya tetap bisa diselesaikan.
Menurut saya jauh lebih enak mendengar seseorang berkata, “Saya rasa ini sulit dilakukan sekarang karena kapasitas tim sudah penuh, bagaimana kalau kita prioritaskan yang ini dulu?” dibanding orang yang dari awal bilang sanggup, tapi beberapa hari kemudian ternyata pekerjaannya gak selesai.
Jadi karyawan loyal tetap boleh bilang “tidak”.
Selama penolakannya punya alasan yang jelas dan disampaikan dengan cara yang baik, kata “tidak” bukan berarti gak peduli. Kadang justru itu adalah cara paling jujur untuk menunjukkan bahwa kita masih memikirkan dampak dari pekerjaan yang sedang dijalankan.
Berbeda Pendapat dengan Atasan Bukan Berarti Tidak Loyal
Punya jabatan lebih tinggi tentu biasanya berarti punya tanggung jawab dan pengalaman yang lebih besar. Tapi tetap saja, atasan juga manusia dan bukan berarti semua pendapat atau keputusan yang dibuat pasti selalu benar.
Makanya menurut saya berbeda pendapat dengan atasan adalah hal yang wajar.
Namanya juga kerja bareng banyak orang, pasti ada saatnya sudut pandang kita berbeda. Atasan melihat dari sisi manajemen, sementara karyawan mungkin melihat langsung apa yang terjadi di lapangan. Dua-duanya bisa punya alasan masing-masing.
Yang jadi masalah justru kalau karyawan merasa hanya boleh mengatakan sesuatu yang ingin didengar oleh atasannya.
Atasan bilang A, semuanya setuju A. Atasan bilang targetnya bisa dikejar, semua langsung bilang bisa. Ada ide baru yang sebenarnya dirasa kurang cocok, tetap saja jawabannya, “bagus, Pak.”
Kelihatannya memang aman.
Gak ada debat, gak ada suasana canggung, dan semuanya terlihat kompak.
Tapi kalau terus seperti itu, perusahaan juga bisa kehilangan sudut pandang lain yang sebenarnya penting.
Kadang justru orang yang mengerjakan sesuatu setiap hari bisa melihat masalah yang belum tentu kelihatan dari posisi atasan. Ada proses yang kurang efisien, ada pelanggan yang mulai sering komplain, atau ada sesuatu yang di atas kertas terlihat bagus tapi ternyata susah dijalankan.
Dalam kondisi seperti itu, mengatakan, “Saya kurang setuju, karena…” menurut saya bukan bentuk ketidakloyalan.
Yang penting tentu saja cara menyampaikannya.
Berbeda pendapat gak harus berarti ngomong dengan nada tinggi, memotong pembicaraan, atau sengaja mempermalukan atasan di depan banyak orang. Ada waktu, tempat, dan cara yang lebih baik untuk menyampaikan keberatan.
Kalau memang gak setuju, jelaskan alasannya.
Kalau punya data atau contoh, sampaikan.
Kalau ada alternatif yang menurut kita lebih baik, ya sekalian kasih usulan.
Jadi pembahasannya bukan berubah menjadi siapa yang paling benar, tapi bagaimana menemukan keputusan yang paling masuk akal untuk pekerjaan yang sedang dijalankan.
Menurut saya hubungan kerja yang sehat justru bukan hubungan di mana bawahan selalu mengiyakan atasannya. Tapi hubungan di mana orang masih bisa bilang, “Saya melihatnya sedikit berbeda,” tanpa langsung dianggap sedang melawan.
Karena kadang perusahaan gak butuh lebih banyak orang yang pandai mengangguk.
Perusahaan juga butuh orang yang mau menyampaikan apa yang benar-benar mereka lihat, meskipun jawabannya gak selalu enak untuk didengar.
Ada Bedanya Kritik untuk Menjatuhkan dan Kritik karena Peduli
Nah, satu hal lagi yang menurut saya penting dibedakan adalah antara kritik yang memang tujuannya memperbaiki sesuatu dengan kritik yang cuma ingin menjatuhkan.
Karena dua-duanya sama-sama terdengar negatif kalau dilihat sekilas.
Sama-sama membicarakan masalah. Sama-sama menunjukkan ada sesuatu yang kurang beres. Tapi niat dan cara menyampaikannya bisa sangat berbeda.
Ada orang yang setiap hari mengeluh soal perusahaan, tapi ketika ditanya apa yang sebenarnya salah jawabannya gak jelas. Masalah sedikit diceritakan ke semua orang, dibesar-besarkan, lalu ujung-ujungnya malah menyerang pribadi.
Atasannya dibilang gak becus, teman kerjanya disalahkan, perusahaan dianggap selalu salah.
Kalau modelnya seperti itu, menurut saya memang susah disebut sebagai kritik yang membangun.
Apalagi kalau masalahnya malah sengaja disebarkan ke mana-mana hanya supaya suasana tambah panas.
Berbeda dengan orang yang datang membawa masalah yang jelas.
Misalnya dia menjelaskan bagian mana yang menurutnya bermasalah, kenapa hal itu bisa mengganggu pekerjaan, lalu menyampaikannya kepada orang yang memang punya kewenangan untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Kalau memungkinkan, dia juga membawa alternatif.
Bukan sekadar bilang, “Ini jelek,” tapi mungkin dilanjutkan dengan, “Kalau prosesnya diubah seperti ini, mungkin pekerjaannya bisa lebih cepat.”
Menurut saya kritik seperti ini justru menunjukkan kalau orang tersebut masih peduli.
Karena kalau sudah benar-benar gak peduli, sebenarnya lebih gampang diam saja.
Biarkan masalahnya terus berjalan, kerjakan bagian kita seadanya, lalu pulang. Kalau nanti terjadi masalah ya tinggal bilang bukan urusan kita.
Tapi ketika seseorang masih mau meluangkan waktu untuk menunjukkan ada yang kurang tepat, menjelaskan alasannya, dan mencoba mencari jalan keluar, setidaknya ada usaha supaya sesuatu menjadi lebih baik.
Tentu kritik juga gak selalu harus datang lengkap dengan solusi.
Kadang karyawan memang bisa melihat ada masalah tapi belum tahu cara terbaik untuk menyelesaikannya. Menurut saya itu juga gak masalah. Yang penting masalahnya jelas, disampaikan dengan alasan yang masuk akal, dan diarahkan ke orang yang tepat.
Jadi menurut saya jangan langsung menganggap semua kritik sebagai bentuk ketidakloyalan.
Lihat dulu kritiknya seperti apa.
Kalau isinya cuma mengeluh, menyerang orang lain, dan memperkeruh keadaan, ya itu cerita lain. Tapi kalau kritik tersebut disampaikan karena memang ada masalah yang perlu diperbaiki, bisa jadi justru itu tanda kalau orang tersebut masih cukup peduli untuk gak membiarkan semuanya berjalan begitu saja.
Perusahaan Juga Perlu Memberikan Ruang bagi Karyawan untuk Berkata “Tidak”
Ruang komunikasi yang aman membuat karyawan lebih berani menyampaikan masukan, risiko, dan perbedaan pendapat secara terbuka.
Kalau perusahaan ingin punya karyawan yang loyal, menurut saya loyalitas itu gak bisa dibangun hanya dengan tuntutan.
Karyawan diminta komitmen, diminta peduli dengan perusahaan, diminta memberikan yang terbaik, tapi di sisi lain setiap kali ada yang berbeda pendapat malah dianggap gak mendukung.
Ya lama-lama orang juga malas bicara.
Awalnya mungkin masih ada yang berani kasih masukan. Tapi kalau setiap masukan dianggap sebagai keluhan, setiap penolakan dianggap gak loyal, dan setiap pertanyaan dianggap sebagai bentuk pembangkangan, akhirnya orang belajar satu hal: lebih aman diam.
Disuruh ya kerjakan.
Ditanya ya bilang setuju.
Ada masalah ya simpan sendiri.
Kelihatannya memang lebih tenang karena gak banyak perdebatan. Tapi menurut saya kondisi seperti ini justru gak terlalu sehat untuk perusahaan.
Karena komunikasi akhirnya cuma berjalan satu arah.
Perusahaan bicara, karyawan mendengarkan. Atasan memberi keputusan, bawahan mengikuti. Tapi informasi dari bawah yang seharusnya bisa membantu perusahaan justru berhenti di tengah jalan karena orang takut salah ngomong.
Di dunia kerja ada istilah psychological safety, sederhananya adalah rasa aman untuk berbicara tanpa terus-terusan khawatir bakal dipermalukan, dihukum, atau dicap negatif hanya karena menyampaikan pendapat.
Bukan berarti karyawan jadi bebas ngomong seenaknya.
Tetap harus ada etika, alasan yang jelas, dan cara komunikasi yang baik. Tapi setidaknya orang gak perlu deg-degan hanya karena ingin bilang, “Saya melihat ada risiko di bagian ini,” atau, “Menurut saya cara ini perlu dipertimbangkan lagi.”
Kalau ruang seperti itu ada, menurut saya loyalitas malah bisa tumbuh dengan lebih sehat.
Karyawan gak harus pura-pura setuju supaya dianggap baik. Perusahaan juga bisa mendapatkan feedback yang mungkin gak selalu enak didengar, tapi justru penting untuk mengetahui apa yang benar-benar terjadi.
Memang kadang feedback itu menyebalkan.
Apalagi kalau kita sudah yakin dengan sebuah keputusan lalu ada orang yang datang dan bilang ada yang kurang tepat. Tapi ya namanya masukan memang gak selalu berbentuk pujian.
Dan kalau perusahaan hanya mau mendengar hal-hal yang menyenangkan, lama-lama orang juga akan berhenti mengatakan hal yang sebenarnya.
Pada akhirnya loyalitas menurut saya seharusnya berjalan dua arah. Bukan cuma soal seberapa besar karyawan mau mengikuti perusahaan, tapi juga seberapa besar perusahaan mau mendengar orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Pembahasan soal hubungan dua arah ini sebenarnya lebih luas lagi, terutama soal kenapa loyalitas sering lebih banyak dituntut dari sisi karyawan. Saya membahasnya secara khusus dalam artikel “Kenapa Loyalitas Sering Dituntut dari Karyawan, tapi Tidak dari Perusahaan?”.
Tapi untuk bagian ini intinya sederhana saja.
Kalau perusahaan ingin karyawannya peduli, kasih juga ruang supaya mereka bisa bicara jujur. Termasuk ketika jawaban yang diberikan ternyata bukan selalu “iya”.
Jadi, Seperti Apa Bentuk Loyalitas yang Sehat?
Kalau loyalitas bukan berarti harus selalu bilang iya, lalu sebenarnya seperti apa sih bentuk loyalitas yang sehat?
Menurut saya jawabannya justru ada di hal-hal yang kelihatannya sederhana.
Karyawan yang loyal tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Datang bukan cuma sekadar menggugurkan kewajiban, tapi benar-benar peduli dengan hasil pekerjaan yang dia pegang. Kalau ada masalah, dia gak langsung pura-pura gak tahu hanya karena merasa itu bukan urusannya.
Kalau melihat sesuatu yang salah, dia juga berani menyampaikan.
Bukan karena ingin terlihat paling pintar atau sok tahu, tapi karena memang gak ingin masalah tersebut dibiarkan terus berjalan.
Di sisi lain, loyal juga bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri sampai batasnya gak jelas.
Kita tetap bisa menjaga kepentingan perusahaan tanpa harus mengabaikan kondisi diri sendiri. Karena menurut saya hubungan kerja yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi bagaimana tanggung jawab dan kepentingan keduanya bisa tetap berjalan dengan masuk akal.
Begitu juga ketika berbeda pendapat.
Kita boleh punya pandangan yang berbeda dengan atasan atau rekan kerja, selama tetap disampaikan dengan rasa hormat. Gak harus selalu setuju, tapi juga gak perlu menjadikan setiap perbedaan sebagai ajang adu siapa yang paling benar.
Dan yang paling penting, jangan asal bilang “iya” hanya supaya terlihat sebagai karyawan yang baik.
Kalau memang sanggup, ya bilang sanggup.
Kalau ada risiko, sampaikan risikonya.
Kalau gak setuju, jelaskan alasannya.
Menurut saya itu jauh lebih sehat daripada selalu mengangguk di depan, tapi mengeluh atau menyalahkan keadaan di belakang.
Jadi pada akhirnya, karyawan loyal bukan karyawan yang selalu setuju. Kadang justru karena peduli, dia memilih untuk tidak diam.
Karena loyalitas yang sehat bukan soal seberapa sering kita bilang “iya”, tapi seberapa serius kita menjalankan tanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan tetap berani jujur ketika memang ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
Kalau Selalu Harus Bilang “Iya”, Mungkin Masalahnya Bukan Loyalitas
Kalau sedikit-sedikit menolak langsung dianggap gak loyal, menurut saya ada yang mulai salah dengan cara kita memahami loyalitas.
Karena lama-lama loyalitas bukan lagi soal komitmen atau kepedulian terhadap perusahaan, tapi berubah menjadi tuntutan untuk selalu menurut.
Karyawan yang setuju dianggap loyal.
Karyawan yang bertanya mulai dicurigai.
Karyawan yang menolak dianggap gak punya komitmen.
Kalau sudah seperti itu, orang akhirnya bilang “iya” bukan karena memang setuju atau percaya dengan keputusan perusahaan, tapi karena takut dengan konsekuensinya.
Takut dianggap susah diajak kerja sama.
Takut penilaian kerjanya jelek.
Takut hubungannya dengan atasan jadi gak enak.
Atau mungkin sekadar takut dicap sebagai karyawan yang gak loyal.
Padahal menurut saya ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu karena memang punya komitmen dengan melakukan sesuatu karena merasa gak punya pilihan.
Yang satu tumbuh dari rasa percaya.
Yang satunya lagi tumbuh dari rasa takut.
Dan kalau loyalitas hanya bisa bertahan selama karyawan terus mengorbankan waktu, tenaga, pendapat, bahkan dirinya sendiri supaya tetap dianggap “baik”, mungkin yang perlu dipertanyakan bukan loyalitas karyawannya.
Tapi standar loyalitas yang dipakai.
Karena pada akhirnya akan muncul pertanyaan yang lebih besar: sebenarnya sampai mana seorang karyawan harus berkorban demi perusahaan?
Apakah harus selalu siap ketika dibutuhkan? Harus terus menerima keputusan meskipun gak setuju? Harus mengorbankan waktu pribadi? Atau bahkan bertahan ketika hubungan kerja tersebut sudah gak lagi terasa sehat?
Nah, batas seperti inilah yang menurut saya perlu dibicarakan lebih jauh.
Karena loyalitas memang penting, tapi loyalitas juga seharusnya punya batas yang masuk akal. Dan soal batas tersebut saya bahas lebih lengkap dalam artikel “Budaya Loyalitas di Tempat Kerja: Sampai Mana Karyawan Harus Berkorban?”.
Penutup
Dulu mungkin kita sering menganggap karyawan yang selalu bilang iya adalah tipe karyawan ideal.
Disuruh ini jalan, diminta itu siap, jarang membantah, jarang bertanya, pokoknya kelihatannya gampang diajak kerja sama.
Tapi makin lama bekerja, menurut saya makin kelihatan kalau perusahaan sebenarnya gak cuma butuh orang yang bisa mengangguk.
Kadang perusahaan justru butuh orang yang berani bilang, “Kayaknya cara ini perlu dipikirkan lagi.”
Bukan untuk melawan.
Bukan juga karena merasa paling benar.
Tapi karena ada sesuatu yang memang perlu dibicarakan sebelum masalahnya keburu jadi lebih besar.
Menurut saya mengatakan “tidak” juga gak otomatis bikin seseorang kehilangan loyalitasnya. Selama punya alasan yang jelas, disampaikan dengan cara yang tepat, dan tujuannya memang untuk menjaga pekerjaan tetap berjalan dengan baik, ya menurut saya itu masih sangat wajar.
Malah kadang orang yang berani ngomong jujur jauh lebih berguna daripada orang yang selalu bilang iya tapi sebenarnya gak setuju.
Jadi kalau selama ini loyalitas selalu diukur dari seberapa sering seseorang menurut, mungkin cara melihatnya memang perlu sedikit diubah.
Karena pada akhirnya pertanyaan tentang loyalitas bukan cuma soal apakah seorang karyawan mau menurut atau berkorban, tapi sampai mana pengorbanan itu masih bisa disebut wajar.
Kalau mau membahasnya lebih jauh, Anda bisa lanjut membaca “Budaya Loyalitas di Tempat Kerja: Sampai Mana Karyawan Harus Berkorban?”.